Karna Reviewed by Momizat on . KARNA, ADIPATI  yang nama lengkapnya Basukarna, adalah putra Dewi Kunti/Dewi Prita — Putri Prabu Basukunti, raja Negara Mandura, dengan Batara Surya. Karna lahi KARNA, ADIPATI  yang nama lengkapnya Basukarna, adalah putra Dewi Kunti/Dewi Prita — Putri Prabu Basukunti, raja Negara Mandura, dengan Batara Surya. Karna lahi Rating: 0
You Are Here: Home » Tokoh atau Karakter » Karna

Karna

KARNA, ADIPATI  yang nama lengkapnya Basukarna, adalah putra Dewi Kunti/Dewi Prita — Putri Prabu Basukunti, raja Negara Mandura, dengan Batara Surya. Karna lahir di luar perkawinan yang sah akibat kesalahan Dewi Kunti membaca mantera Aji Pameling:  Kunta wekasing rasa, cipta tunggal tanpa lawan  ajaran Resi Druwasa. Atas kesaktian Resi Druwasa, bayi Karna dilahirkan melalui telinga, hingga Kunti tetap perawan. Bayi Karna kemudian dihanyutkan/dilarung (Jw.)  ke dalam sungai Gangga dan ditemukan oleh Rada, sais/ kusir kereta kerajaan Astina. Karna  juga dikenal dengan nama ; Suryatmaja, Suryaputra  dan Aradea.

Dari garis keturunan Ibu (Dewi Kunti), Karna mempunyai tiga saudara lelaki lain ayah. Mereka adalah ; Puntedewa, Bima dan Arjuna. Karna bersahabat baik dengan Prabu Duryudana, raja Negara Astina. Karna diangkat menjadi raja negara Awangga, sehingga lebih dikenal dengan sebutan  Adipati Karna. Karna memiliki sifat perwatakan ; Pemberani, tahu balas budi, setia, prajurit ulung, teguh dalam pendirian.

Selain sakti, Karna juga piawai  mempergunakan senjata panah. Ia pernah berguru pada Resi Parasurama di pertapaan Daksinapatra, dan mendapatkan Aji Kalakupa  serta  Aji Naracabala. Ketika dia berguru para Parasurama dia mengaku sebagai keturunan sudra, kenyataannya memang dia anak Rada. Pada suatu hari Parasurama ketiduran di pangkuan Karna. Seekor kalajengking menyengat kaki Karna. Racunpun mulai merambat di kaki bahkan sekujur tubuh Karna. Perasaan sakit yang tak terhingga ditahannya. Diraihnya sepotong ranting untuk digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin bercucuran, mukanya biru keracunan. Namun ia pantang beringsut, takut menganggu tidur gurunya. Ketika Parasurama bangun, ia mendapati muridnya itu pingsan. Tahulah ia apa yang tengah terjadi. Parasurama mengamati dengan seksama raut dan aura wajah Karna yang mengaku sebagai keturunan Sudra. Parasurama sangsi, dalam hati yakin pastilah Karna ini keturunan ksatria atau dewa karena mempunyai daya tahan yang luar biasa. Parasurama yang merasa telah dibohongi lalu mengutuknya “Jika ia bohong, semoga ketika menghadapi musuh besar, ia lupa merapalkan mantra saktinya”  Kutukan Parasurama itu menjadi kenyataan ketika perang Bharatayuda, Pada saat akan melepaskan senjata pamungkas, ia lupa merapal mantra sakti sehingga panah Arjuna lebih dahulu memenggalnya.

Karna juga memiliki pusaka kadewatan, yaitu Kutang/rompi Kawacayuda dan Cincin Socamaningrat.  Sedangkan pusaka yang dimilikinya adalah : Panah Kunta, pemberian Bathara Narada dan Panah Wijayacapa, dari Bathara Indra serta Keris Kiai Jalak.

Karna menikah dengan Dewi Surtikanti — Putri Prabu Salya, dengan Dewi Setyawati, dan memperoleh 2 ( dua ) orang putra bernama Warsasena  dan Warsakumara.

Karna di dalam serat Tripama karya Sri Mangkunegara IV dianggap satu dari tiga tokoh (Karna, Kumbakarna dan Sumantri )  yang patut diteladani loyalitas dan rasa  nasionalismenya. Secara hitam putih Karna dianggap sebagai adalah tokoh kiri. Karena dia membantu pihak Kurawa dalam perang Bharatayuda yaang dianggap sebagai pihak kiri, berhadapan dengan saudara-saudaranya Pandawa sebagai simbol kebenaran. Tetapi dipandang dari kesetiaan pada dharmanya sebagai prajurit dan dalam hal kesetiannya pada raja dan negaranya patut ditauladani. Sri Mangkunegara memandang,  secara moral Karna mendapat nilai positif.

Ada salah episode yang mengharukan ketika Kunti membujuk Karna untuk mau bergabung dengan saudara-saudaranya Pandawa menjelang perang Bharatayuda. Ketika itu lakon Kresna Duta atau Kunti Duta.

Secara khusus Kunti menemui puteranya itu, dengan membawa pesan dari Pandawa, “Anakku Karna, bergabunglah dengan saudaramu Pandawa yang jelas-jelas di pihak yang benar. Jika kamu bersedia bergabung, Puntadewa akan menyerahkan tahta Amarta kepadamu nak!”

“Wahai Ibu Pandawa..”

“Panggil aku ibu saja nak… karena kau juga anakku” potong Kunti.

“Baik ibunda. Ibu Kunthi adalah wanita mulia. Apa kata dunia jika  Karna, putra Ibu Kunti ternyata seorang pengkhianat! Justru keputusanku untuk tetap bergabung dengan Kurawa, semata-mata ingin tetap mengharumkan nama Kunti sebagai ibu para ksatriautama. Jika aku berkhianat, nama ibu akan cemar. Ibu akan dicela sepanjang sejarah karena pernah melahirkan seorang anak yang tidak tahu dharma, seorang penghianat yang silau kekuasaan..”

“Karna, jika kau tidak mau bergabung, kau akan berhadapan dengan adik-adikmu. Ibu mana yang kuat menyaksikan anak-anaknya saling bunuh nak??” Desak Kunti sambil terurai air mata. Tangan lembutnya membelai rambut Karna. Anaknya yang lama tak pernah disentuhnya.

“Ibu, percayalah. Duryudana yang pengecut itu tidak akan pernah berani memulai perang jika saya tidak di pihaknya. Keberadaanku di pihak Kurawa justru akan mempercepat angkara murka ini lenyap dari muka bumi dan adik-adikku Pandawa segera mendapatkan haknya atas negara Astina.”

“Kau membela angkara murka, kau salah anakku”

“Urusan salah benar itu bukan urusan manusia. Saya setia pada negara Astina yang telah menjadi ibuku, yang menghidupiku… apakah aku salah.. Maaf kalau aku melukai hatimu Ibu…ijinkan aku tetap setia pada dharmaku sebagi prajurit Astina. Tan hana dharma mangrwa. Tidak ada dharma yang mendua. Kebenaran hanya milik Hyang Kuasa…Ibu, aku mohon restumu untuk maju kemedan laga..” Karna menghaturkan sembah.

“Baik aku restui, lalu siapakah yang akan kau hadapi?”

“Aku akan melawan dinda Arjuna”

“Oh.. Pandawa, engkau akan binasa naaak..” Jerit kunti dalam kesenduan yang dalam.

“Tidak ibu… Anak ibu Pandawa akan tetap lima orang. Aku anakmu Karna yang akan mengantarkan Pandawa pada kejayaan.. Sekali lagi aku mohon doa restu dan mohon pamit untuk mati…”

“Oh Karnaa…”

Kunthi lunglai, pingsan. Karna memeluk ibunya. Membaringkan di tempat tidur. Karna segera memacu keretanya dari Penggombakan, tempat kediaaman Adipati Widura,  menuju ke Awangga.

Akhir riwayatnya diceritakan, Karna gugur di dalam perang Bharatayuda oleh panah Pasopati milik  Arjuna.

About The Author

Number of Entries : 384

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top