Kebudayaan I Pemahaman Kebudayaan menurut Sekar Budaya Nusantara Reviewed by Momizat on . Kebudayaan I Pemahaman Kebudayaan menurut Sekar Budaya Nusantara    Budaya atau Kebudayaan berasal dari  bahasa Sanksekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bent Kebudayaan I Pemahaman Kebudayaan menurut Sekar Budaya Nusantara    Budaya atau Kebudayaan berasal dari  bahasa Sanksekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bent Rating: 0
You Are Here: Home » Percikan Pemikiran » Kebudayaan I Pemahaman Kebudayaan menurut Sekar Budaya Nusantara

Kebudayaan I Pemahaman Kebudayaan menurut Sekar Budaya Nusantara

Kebudayaan

I

Pemahaman Kebudayaan

menurut

Sekar Budaya Nusantara

 

 Budaya atau Kebudayaan berasal dari  bahasa Sanksekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari bahasa Latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat  dalam masyarakat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Istilahnya adalah Cultural-Determinism.  Herkovits memandang kebudayaan sebagai suseatu yang turun temurun dari generasi ke generasi lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian: nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur sosial, relegius dan segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward B. Tyalor kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Sumardjan dan Soeleman Soemardi, kebudayaan adalah hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu: Keseluruhan sistem pengetahuan yang meliputi sistem idea tau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan dari kebudyaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai mahkluk berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata. Misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan yang digunakan untuk menunjang kehidupan, organisasi sosial, religi, seni dan lain-lainnya untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

 

Menurut  J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yaitu gagasan, aktivitas dan artefak.

  1. 1.       Gagasan (wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya yang sifatnya abstrak. Tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala atau alam pikirana warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

  1. 2.       Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam sistem masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkrit, terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat diamati dan didokumentasikan.

  1. 3.       Karya (artefak)

Karya atau artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkrit di antara ketiga wujud kebudayaan.

 

Dalam kenyataan kehidupan masyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagi contoh wujud kebudayaan yang berupa gagasan (wujud ideal) memiliki pengaruh dalam mengatur dan memberi arah kepada wujud kebudayaan yang berupa tindakan (aktivitas) dan wujud kebudayaan yang berupa karya (artefak) manusia.

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

 

Kebudayaan Material (tangible)

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat  yang nyata, konkrit, bisa diraba. Termasuk di dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian atau kebudayaan  material yang mencakup barang-barang seperti televisi, pesawat, pakaian, gedung, mesin cuci dll.

 

Kebudayaan Non Material (intangible)

Kebudayan non material adalah ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi misalnya dongeng, cerita rakyat, lagu, tarian tradisi , kesenian rakyat, falsafah dll.

 

Adapun komponen atau unsur-unsur kebudayaan menurut Prof. Koentjaraningrat dapat dikelompokkan menjadi 7 unsur kebudayaan yaitu:

  1. 1.       Peralatan dan Perlengkapan Hidup (Teknologi)

Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau memproduksi hasil-hasil kesenian.

 

  1. 2.       Sistem Mata Pencaharian Hidup

Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian hidup terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja seperti berburu, bertani dll. Namun menurut pandangan kami fakusnya lebih luas, karena perkembangan dari pemahaman sistem ekonomi sejak jaman ekonomi rumah tangga, merkantilisme, klasik dan modern senantiasai dipengaruhi oleh gagasan pemikiran manusia yang berkembang sesuai perkembangan budayanya.

 

  1. 3.       Sistem Kekerabatan dan Organisasi

Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. M. Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memeiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas: ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya.

 

Dalam kajian sosiologi antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral dan keluarga unilateral.

 

Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

 

  1. 4.       Bahasa

Bahasa adalah atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan , lisan ataupun gerakan (bahasa isyarat) dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat, istiadat, tingkah laku tata krama masyarakat dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

 

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari nasakah-naskah kuna, dan untuk mengekploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

  1. 5.       Kesenian

Kesenian mengacu pada nilai keindahan(estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata maupun telinga. Sebagai makluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.

 

  1. 6.       Sistem Kepercayaan

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan muncul keyakinan akan adanya Penguasa Tertinggi dari sistem jagad raya ini yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu baik secara individu maupun hidup masyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada Penguasa Alam semesta.

 

Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Relegion, yang berasal dari kata latin religare, yang berarti “menambatkan” ) adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia.

 

  1. 7.       Sistem Ilmu Pengetahuan

Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berfikir melalui logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error)

 

Penetrasi Kebudayaan

 

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:

 

  1. 1.       Penetrasi Damai (penetration pasifique)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.

Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan akulturasi, asimilasi  atau sintesis.

 

Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudaaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat terbentuknya  sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

 

  1. 2.       Penetrasi Kebudayaan (penetration violante)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya masuknya kebudayaan Barat  ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.

 

Kebudayaan sebagai Peradaban

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang  dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke -19. Mereka menganggap kebudayaan sebagai peradaban sebagai lawan kata “alami” (nature). Menurut cara pikir ini kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.

 

Pada prakteknya, bagi mereka  kata kebudayaan biasanya merujuk pada benda-benda dan  aktivitas yang “elit/beradab” seperti misalnya baju berkelas, menyukai fine art, atau mendengar musik klasik. Sementara kata kebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian dari aktivitas “elit” di atas.

 

Contohnya, seseorang berpendapat bahwa musik klasik adalah musik yang berkelas elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik kampungan dan ketinggalan jaman, maka timbullah anggapan bahwa orang tersebut yang memandang musik klasik itu elit itu adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.

 

Orang yang menggunakan kata kebudayaan dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolok ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini seorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang tidak “berkebudayaan”. Para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menentukan  pemikiran “manusia alami” (human nature) atau bisa diartikan sebagai “primitive”.

 

Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”

Selama Era Romantis, para cendikiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme, seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria, telah mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam : “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karena, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitive”

 

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan defenisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.

 

Pada tahun 50-an, muncul pemahaman tentang sub kebudayaan yaitu kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dengan kebudayaan induknya. Sub kebudayaaan ini mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula terjadi ide kebudayaan perusahaan, yaitu perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

 

Teori-teori yang saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilitas yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

 

 

Kebudayaan Indonesia

 

Kebudayaan Indonesia dapat didefenisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum terbentuknya Negara Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral dari kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan Indonesia walau berakena macam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebuduyaan besar seperti kebudayaan Tionghoa, India, Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk.  Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Buddha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai sampai di penghujung abad ke 15 Masehi.

 

Kebudyaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebuduyaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau Tionghoa yang datang dari daerah Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar dari kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi. Kemudian kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka menuju Tiongkok.

 

Sentuhan-sentuhan kebudayaan itulah yang kemudian dianggap sebagai kebudayaan “asli” Indonesia . Ketika terjadi sentuh budaya dengan kebudayaan Islam, hasilnya kebudayaan Indonesia yang memperlihatkan pengaruh Islam. Begitu secara terus menerus itulah kemudian yang disebut dengan “Cerlang Budaya” yang merupakan Kepribadian Kebudayaan Bangsa yang terbentuk setelah budaya lama bersatu dengan budaya baru dan menjadi identitas baru bagi bangsa Indonesia.

 

 

Gerakan Budaya Sekar Budaya Nusantara

Apa yang terjadi akhir-akhir ini yang telah menimpa kita dengan berbagai peristiwa memilukan dan musibah beruntun yang dialami bangsa Indonesia, serta proses globalisasi dan reformasi yang menyentuh kita  di beberapa dekade ini, ternyata telah banyak mempengaruhi kemampuan usaha kita untuk memperbaiki kesejahteraan bangsa Indonesia yang sudah terpuruk sejak beberapa waktu yang lalu.

 

Keterpurukan kesejahteraan bangsa Indonesia yang berkepanjangan ini harus diyakini oleh kita semua bahwa itu terjadi dikarenakan  ulah bangsa Indonesia sendiri yang tidak lagi arif menumbuhkan cerlang budaya Indonesia, yang merupakan sentuhan dua budaya antara budaya Indonesia dan budaya reformasi serta budaya Globalisasi yang telah melanda kita semua.

 

Kita selama ini telah mengartikan sentuhan budaya reformasi dan globalisasi sebagai suatu budaya yang mutlak harus diikuti dan dijalani tanpa reserve. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat budaya era reformasi dan globalisasi dan menganggap pemahaman budaya yang dianutnyalah yang benar. Kebudayaan yang muncul saat ini merupakan akibat sentuhan penetrasi yang dipaksakan secara cepat pada individu atau kelompok masyarakat Indonesia, yaitu menyerupai suatu bentuk penetrasi kekerasan (penetration violante) dari budaya reformasi dan globalisasi yang berversi dominan budaya luar/asing.

 

Akibatnya kebudayaan yang berujud budaya gagas an /ide dan budaya tindakan yang muncul selama ini telah diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sangat dipengaruhi budaya reformasi dan budaya global yang sangat asing. Bukan lagi merupakan hasil sentuhan budaya yang berevolusi penetrasi damai (penetration pasifique) yang dapat menghasilkan cerlang budaya melalui proses akulturasi, asimilasi dan sintesa dengan budaya reformasi dan globalisasi yang menghasilkan budaya baru yang mencirikan budaya Indonesia sendiri.

 

Generasi muda sepertinya sedang mengalami kegamangan budaya. Sebagaian tercerabut dari akar budaya Indonesia, sebagian menjadi generasi instan yang silau dengan kebudayaan Barat. Mereka tidak bangga, bahkan mengingkari kebudayaan leluhurnya. Dalam perilaku dan berkarya, mereka semakin jauh dari budaya gagasan/ide yang merupakan nilai-nilai dasar yang menjadi roh bagi eksistensi bangsa Indonesia, yang sebetulnya merupakan cerminan budi pekerti dan jati diri kita sendiri. Akibatnya adalah masyarakat Indonesia dan generasi mudanya semakin menjauh dari nilai, norma dan peraturan yang sejalan denga moral dan peradaban bangsa Indonesia.

 

Bila berlanjut, situasi ini sangat rawan bagi bangsa Indonesia dalam mempertahankan dirinya dari pengaruh globalisasi, sehingga berbagai potensi ketahanan harus digali untuk membangun kembali kemampuan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tetap memiliki jati diri dan mandiri. Kalau dari sisi kebudayaanlah yang merupakan satu-satunya potensi ketahanan bangsa Indonesia saat ini yang masih bisa diharapkan.

 

Budaya adalah merupakan hasil budidaya manusia. Unsur kebudayaan yang meliputi tujuh unsur universal menurut Prof. Dr Koentjaraningrat adalah:

  1. Sistem Teknologi,
  2. Sistem Mata Pencaharian Hidup atau Ekonomi,
  3. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial (politik),
  4. Bahasa,
  5. Sistem Kepercayaan/Religi,
  6. Kesenian dan
  7. Sistem Pengetahuan.

 

Tujuh Unsur itu harus direvitalisasi lagi. Ketujuh unsur inilah yang menyatu, mempengaruhi budaya suatu bangsa. Masing-masing unsur akan membentuk sistem dan tatanan hidup manusia yang mempengaruhi sikap dan tingkah laku dan karyanya yang merupakan cerminan dari budaya gagasan/ide manusia.

Sebagai contoh dapat disimak bahwa sistem mata pencaharian  atau sistem ekonomi yang menganut pasar bebas, akan menimbulkan kapitalisme dengan budayanya yang menghalalkan siapa yang kuat itulah yang menang.  Sistem teknologi yang ofensif akan menumbuhkan budaya sombong, arogansi dan adikuasa.

 

Organisasi Sosial Kemasyarakatan atau Sistem Politik yang tidak dibangun dengan landasan toleransi dalam kebersamaan akan menumbuhkan budaya politik yang tidak konseptual dan realistis (waton sulaya).

 

Dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini, sudah tidak bisa ditunda lagi. Kini saatnya kita harus melakukan Gerakan Budaya untuk rediscovery-preservation –development kebudayaan bangsa kita dalam segala aspek. Kebudayaan dalam arti luas yang mencakup ketujuh unsur kebudayaan tersebut.

Kita perlu menemukan dan menggali kembali apa yang menjadi wujud budaya gagasan/ide yang merupakan kumpulan dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, yang bersifat abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh (intangible). Wujud kebudayaan terletak dalam kepala-kepala atau dalam alam pikiran warga masyarakat Indonesia yang umumnya selama ini telah diyakini, suatu wujud budaya yang mempengaruhi budi pekerti dan jati diri bangsa Indonesia sebelum kita tersentuh oleh budaya global atau terpengaruh eforia reformasi.

 

Sekumpulan ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan yang menjadi adat istiadat yang selama ini telah ada dan telah dapat diterima secara umum, dicoba untuk digali dan dikaji kembali. Apa saja yang masih dapat dipertahankan dan apa saja yang perlu dikembangkan agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Wujud budaya gagasan tersebut adalah merupakan lokal genius bangsa Indnesia yang harus diupayakan untuk tetap dilestarikan dan tetap melekat dalam wujud budaya gagasan bangsa Indonesia. Sehingga apabila bangsa Indonesia mengalami sentuhan budaya dengan budaya global dan pengaruh reformasi bangsa Indonesia mampu melakukan akulturasi, assimilasi dan sintesa yang hasilnya menjadi suatu wujud kebudayaan perilaku dan karya bangsa Indonesia yang tetap memiliki konotasi sebagai lokal genius baru atau cerlang budaya bangsa Indonesia.

About The Author

Number of Entries : 384

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top