You Are Here: Home » Sejarah SBN

Sejarah SBN

Sejarah Sekar Budaya Nuantara (SBN) merupakan gambaran perjalanan hidup SBN sejak berdirinya hingga saat ini. Di dalam gambaran perjalanan sejarah ini dapat diketahui sejak kapan dan bagaimana SBN mulai menapaki kehidupannya dengan berbagai tantangan dan hambatannya. Namun yang pasti SBN selalu taat pada prinsip yang tertera pada visi dan misinya untuk selalu bepegang teguh pada cita-citanya yaitu membangun dan meneguhkan  jati diri bangsa Indonesia.

Latar Belakang

Dua kata kasihan dan sayang itu adalah ungkapan yang muncul dari hati nurani Ibu Nani Soedarsono saat pertama kali melihat nasib yang dialami oleh salah satu seni tradisional setelah mendengarkan permintaan Almarhum Bapak Karno salah satu sesepuh WO Bharata untuk menolong komunitas wayang orang Bharata Jakarta  yang sedang dalam kesulitan pada tahun 2000. Kasihan melihat para pelakunya yang begitu mahir dan  profesional di bidang seni tradisional, tetapi mengalami kesulitan hidup karena mereka tidak dihargai secara ekonomis. Sayang karena seni yang bersumber dari kebudayaan tradisional yang mempunyai sejarah panjang sejak abad ke-10 serta begitu tinggi nilainya karena  tuntunan hidup manusia yang begitu luhur, mulia dan universal  ini  ternyata tidak mendapat apresiasi dari bangsanya sendiri. Dari rasa kasihan dan sayang tersebut kemudian dihimpun para pecinta dan pendukung wayang orang lewat Mitra Bharata untuk membantu WO Bharata selama 2 tahun (2000-2002) pentas di GKJ, kemudian didirikan Paguyuban Sekar Budaya Nusantara (SBN) dengan harapan mampu memberikan solusi agar seni dan budaya tradisional bangsa Indonesia tetap eksis dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

SBN didirikan oleh Ibu Nani Soedarsono pada tanggal 11 September 2002 yang dikukuhkan dengan Akte Notaris Hasanal Yani AA, SH, Nomor 3 tanggal 16 Desember 2002. Prakarsa mendirikan SBN juga didasarkan atas keprihatinan  terpuruk dan tersisihkan kebudayaan asli Indonesia karena maraknya budaya modern sebagai implikasi budaya luar negeri. Eksistensi nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia telah bergeser, dampaknya pun telah mempengaruhi perilaku dan karakter masyarakat. Bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang beradab, santun dan guyub cenderung menjadi bangsa yang beringas mudah tersulut konfliks. Kondisi seperti ini jauh dari nilai luhur dan filosofi yang terkandung dalam budaya tradisional bangsa.

SBN berupaya untuk menggali kembali (rediscovery) keagungan nilai-nilai yang ada di balik seni tradisional yang menjadi kearifan lokal bangsa Indonesia, kemudian melestarikan (preservation) nilai-nilai keagungan tersebut agar menjadi jati diri dan identitas bangsa Indonesia yang mampu membedakan bangsa Indonesia di antara bangsa-bangsa lain di dunia, serta mengembangkan (development) nilai-nilai yang telah ada dalam budaya bangsa Indonesia sesuai perkembangan jaman, agar dapat  menjadi suatu kekayaan bagi peradaban manusia-manusia di dunia.

 

A. GERAKAN BUDAYA

Untuk mempertahankan dan mengembangkan secara kreatif nilai filosofi budaya bangsa, sekaligus dalam rangka memberikan pendidikan karakter dan perilaku manusia sesuai dengan jati dirinya, maka SBN mencanangkan suatu gerakan pelestarian budaya tradisional di seluruh Indonesia yang telah terlaksana sejak tahun 2002 sampai dengan 2010.

Gerakan budaya pada hakekatnya adalah ajakan kepada semua potensi bangsa yang mempunyai visi dan misi yang sama menjadi kesatuan gerak dalam Unity in Deversity, agar budaya tradisional di seluruh Nusantara berdaya dan berperan secara kreatif untuk membangun watak dan karakter bangsa.  Dengan gerakan ini pada gilirannya diharapkan dapat memberikan kesejahteraan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat bagi para pelaku budaya dan masyarakat di seluruh Indonesia.

Pada prinsipnya gerakan dan pelestarian budaya tradisional berfungsi sebagai :

  1. Perekat kesatuan dan persatuan bangsa melalui komunitas budayanya.
  2. Gerakan yang menyentuh  kehidupan dengan rasa cinta damai, keindahan, kelembutan dan ras welas asih dalam upaya menepis dan mencairkan gerakan  yang mengandung kekerasan dan konflik akibat gejala politik, ekonomi dan sosial termasuk kemiskinan
  3. Gerakan moral untuk mempertahankan dan menggali jati diri, watak bangsa dalam era globalisasi yang sekaligus merupakan   gerakan kemanusiaan yang senantiasa peduli terhadap mereka yang mengalami keterpurukan.
  4. Gerakan untuk mengubah system manajemen yang lebih modern para komunitas wayang orang/teater tradisi lain yang masih menggunakan system managemen tradisi tobong dll.
  5. Gerakan sosialisasi teknologi media televisi dll.
  6. Gerakan menanamkan kemampuan profesionalisme sebagai syarat untuk tetap memperhatikan kualitas pergelaran wayang orang/teater tradisi yang lain.
  7. Gerakan mengarahkan kepada  industry budaya dengan system produksi VCD/DVD supaya budaya tradisi tetap eksis dalam waktu yang lama (langgeng).
  8. Gerakan memperkenalkan perubahan kreatif dan pandangan modern tanpa meninggalkan jati diri bangsa melalui jelajah budaya, bawaraos, road show dll.
  9. Gerakan menangani local wisdom di daerah tingkat II agar menjadi kreatif dengan tetap mempertahankan jati diri bangsa yang berkembang sebagai PEWANGI yang tetap menjadi tugas SBN sebagai pemrakarsa.
  10. Tugas pemegang amanah SISKS Pakubuwono XII sebagai koordinator Catur Sagotra Nusantara yang bertugas mengembangkan dan melestarikan budaya keraton dan pemantapan kesatuan bangsa lewat bekas kerajaan-kerajaan Nusantara.

 

Pada awalnya gerakan budaya pada tahun 2000 yang digiatkan SBN terfokus di salah satu unsur kebudayaan yaitu kesenian.  Dipilihlah kesenian tradisional wayang orang yang saat itu kondisinya sangat terpuruk; “bagai kerakap tumbuh di batu, mati enggan hidup tak mau”. Pada saat itu hanya tinggal 4-5 tobong ‘komunitas seni panggung’ di Jawa Tengah dan Jakarta yang tetap eksis mempertahankan kesenian adiluhung tersebut. Padahal seni wayang orang adalah seni elite warisan keraton yang layak sebagai tuntunan sekaligus tontonan. Sebagai sebuah seni pertunjukkan unsur seninya sangat kompleks dan lengkap meliputi seni drama/teater, tari, seni musik, seni suara, seni peran, seni rias dan busana, seni rupa dll. Sebagai tontonan,  wayang orang memuat falsafah hidup dan ajaran moral yang sangat diperlukan untuk membentuk karakter dan kepribadian bangsa.

SBN mengembangkan managemen yang terbuka dan modern untuk mengelola wayang orang menjadi sebuah tontonan yang kreatif dan bermutu tinggi. Pembenahan utamanya adalah pembinaan sikap mental, perilaku, profesionalisme dan juga keterampilan skill anak wayang yang direkrut dari berbagai tobong dan juga sarjana seni dari berbagai perguruan tinggi seni seperti ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Mereka bergabung dalam bentuk Paguyuban Sekar Budaya Nusantara dan terikat dalam sebuah kode etik Dharma Wikrama. Para anak wayang yang digembleng di kawah Candradimuka SBN kemudian memulai langkah besar dan fenomenal dengan berkarya nyata dalam sosialisasi nilai-nilai kearifan budaya dengan melakukan rekaman dan tayangan secara rutin di TVRI. Rekaman tersebut juga sebagai usaha preservation dan development bentuk penampilan wayang orang yang kreatif dan modern dengan memperbaiki dan merombak semua unsur seni dan penampilan dengan lebih baik dan modern. Selain itu juga memanfaatkan teknologi yang berkembang seperti perbaikan tata panggung, tata suara, tata lampu serta teknologi broadcast yang canggih. Dipilihlah stasiun TVRI yang jangkuannya lebih luas dan lebih netral dari kepentingan bisnis dan politis. Selama kurun waktu (2002-2010) telah direkam tidak kurang dari  75 episode wayang Orang  dan sudah berhasil dirilis dalam bentuk VCD dan DVD. Selain Wayang Orang telah direkam di TVRI Drama tradisi yang mengangkat sejarah bangsa dimulai dari sejarah Kerajaan Majapahit, Demak dst. sebanyak 7 episode sebagai usaha development seni tradisi yang biasa disebut ketoprak dalam bentuk drama tradisi berbahasa Indonesia dengan nama MATRA. Matra  adalah singkatan drama tradisi. Matra diharapkan sebagai metode pembelajaran sejarah bangsa dengan pendekatan seni pertunjukan. Karena persiapan Matra cukup panjang melalui pembahasan para ahli sejarah dan budaya serta pakar dari berbagai disiplin ilmu dari UI, UGM, Universitas Negeri Surabaya Dll. untuk mendukung legalitas kebenaran sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Semua usaha industri kreatif dalam bentuk tayangan televisi, VCD maupun DVD tersebut lebih didedikasikan SBN sebagai sebuah penyelamatan dan dokumentasi seni dari mahakarya anak bangsa dengan swadaya SBN sendiri tanpa uluran bantuan beaya dari pihak pemerintah.

Usaha lain dalam preservasi wayang orang adalah melakukan live show di berbagai event dan berbagai Pusat-pusat Kesenian baik di Jakarta maupun  di berbagai kota dengan melakukan Road Show seperti di kota Surabaya, Malang, Surakarta, Wonogiri, Yogyakarta, Semarang dll. Selama periode 2002-2010 SBN telah melakukan pergelaran live show sebanyak 42 pergelaran dan pergelaran Road Show sebanyak 8 pergelaran. Dari sekian pergelaran dimana ada satu wilayah yang mendapatkan bantuan dana hibah dari Pemerintah Daerah dengan tugas “ndandani” budaya Jawa Tengah  sejak 2004, ketika yang menjabat Gubernur Jawa Tengah adalah Bapak Drs. H. Mardiyanto dan berakhir sampai dengan tahun 2011 di bawah pimpinan Gubernur Bibit Waluyo karena adanya Peraturan Menteri Dalam Negeri  bahwa dana hibah harus dikelola oleh organisasi yang berdomisili di Jawa Tengah. Untuk itu kemudian dibentuk  SBN Perwakilan Jawa Tengah di bawah pimpinan Bapak B. Subono.

 

Gerakan budaya SBN akhirnya bergulir bagaikan bola salju. Pergelaran wayang orang dan seni tradisi marak di mana-mana. Kelompok dan komunitas wayang orang kemudian barmunculan bagaikan jamur di musim hujan. Apresiasi masyarakat terhadap kesenian wayang tumbuh kembali dan berkembang lebih baik. Gerakan budaya ini didukung dengan usaha-usaha secara ilmiah dengan melakukan seminar, sarasehan bedah budaya dan juga bawa raos untuk menampung masukan-masukan dari berbagai pihak yang mempunyai kepedulian untuk memajukan khususnya kesenian tradisi dan budaya Indonesia pada umumnya. Selain usaha ilmiah dan sarasehan juga dilakukan pendekatan dengan melakukan jelajah budaya berupa muhibah ke kantong-kantong budaya di berbagai kota, tobong-tobong wayang yang masih eksis dan mengunjungi seniman-seniman maestro untuk menampung dan menginventarisir masalah dan persoalan yang selama ini tidak sempat diperhatikan oleh pihak-pihak yang harusnya berkompeten dengan masalah pelestarian dan pengembangan seni tradisi.

Selain di dalam negeri, SBN juga melakukan sosialisasi di luar negeri dengan melakukan lawatan serta misi kesenian dengan mengemas Wayang Orang dalam bentuk Mataya Langen Swara (semacam opera dengan durasi dan irama pergelaran yang lebih cepat, dan padat) ke manca negara seperti ke India,  Jepang, Australia, dan terakhir ke Bangkok.

 

B. MENITI MASA DEPAN BUDAYA BANGSA

Tuntutan perkembangan dan makin luasnya hubungan kerja sama SBN dengan berbagai pihak seperti Pemda, Keraton, Lembaga Pendidikan Tinggi, Lembaga Pemerintah (Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Dirjen Pothan) dll.  telah mendorong SBN yang menyandang predikat lembaga budaya nusantara untuk memperluas juga cakupan perhatiannnya, tidak hanya pada satu unsur kebudayaan saja yaitu  kesenian, namun secara bertahap telah merambah pada aspek kebudayaan lainnya, yaitu melakukan upaya ‘rediscovery-preservation-development’ pada kebudayaan bangsa kita dalam segala aspeknya; yang mencakup system Teknologi, Pengetahuan, Mata Pencaharian, Bahasa, Organisasi Sosial Kemasyarakatan, Religi, dan Kesenian.

 

1.      Ketahanan Bangsa

Pada bulan Juni  2007 diadakan sarasehan bertemakan Meniti Masa Depan Budaya Bangsa yang sebulan kemudian dilanjutkan dengan Sarasehan Dirjen Pothan (Prof. Dr. Budi Susilo Supandji) yang membahas pentingnya upaya bela negara dengan mengedepankan perlunya ketahanan budaya. Lahirlah sebuah konsep yang ditawarkan oleh SBN yang disebut dengan Total Defence Through Cultures; yang sasarannya adalah “melalui budaya kita gali jatidiri kita yang sempat hilang”. Nilai estetika, etika dan filosofi yang terkandung dalam setiap budaya masyarakat Indonesia, dilestarikan dan dimanfaatkan untuk memperkuat potensi ketahanan bangsa, dan selalu harus dikembangkan agar menjadi nilai-nilai baru dan selalu bermanfaat di setiap perkembangan jaman.

Saat ini kita tengah menyaksikan fenomena degradasi bahkan hilangnya identitas keindonesiaan, terutama identitas budaya dan wawasan kebangsaan yang pernah kita miliki sebagai pemersatu orientasi dan cita-cita bangsa. Situasi ini bila berlanjut sangat rawan bagi Indonesia dalam mempertahankan jati dirinya dari pengaruh internal dan global. Oleh karena itu, berbagai potensi ketahanan harus digali untuk membangun kembali kemampuan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri. Kalau dari sisi ekonomi dan sistim persenjataan kita tidak mampu mengimbangi, maka sisi kebudayaanlah yang merupakan satu-satunya potensi ketahanan bangsa Indonesia yang masih bisa diharapkan. Kearifan budaya orisinal bangsa Indonesia, dapat menjadi roh untuk mengakulturasi, mengasimilasi dan menyintesa faham dan kebudayaan global sesuai kearifan lokalnya, sehingga bangsa Indonesia masih tetap memiliki jati diri dan identitas kepribadian bangsa dalam menghadapi era globalisasi ini. Apabila siklus ini dapat dijaga, maka bangsa Indonesia akan memiliki kekuatan pertahanan total dalam menghadapi perkembangan dunia tanpa harus mengorbankan orientasi dan wawasan kebangsaan kita sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Itulah yang disebut dengan konsep ”Total Defence Through Cultures”.

Konsep ketahanan bangsa lewat budaya ini sempat disumbangkan di forum internasional sewaktu Himpunan Wanita Karya (HWK) menjadi tuan rumah dalam Konferensi Internasional PPSEAWA ke-24 pada 18-22 Mei 2010 di Bali yang disampaikan oleh Prof. Dr. Budi Susilo Supandji dengan judul Fostering Peace Through Strengthening Unity in Diversity di wilayah South East Asia and Pacific. Penunjukan ketua untuk masa berikutnya diambil Amerika sedangkan biasanya tuan rumah yang akan menduduki ketua terpilih untuk masa selanjutnya. Mengingat angapan bahwa social resilience di wilayah South East Asia Pasific dianggap penting pada dewasa ini. HWK adalah organisasi wanita nasional yang didirikan oleh Ibu Nani Soedarsono yang dirintis sejak tahun 1963 sampai dengan sekarang. Secara internasional mewakili Indonesia di lembaga International Pan Pacific and South East Asia Women’s  Association.

 

2.      Local Wisdom

Guna memantapkan langkah meniti masa depan budaya bangsa perhatian SBN kemudian tercurah kepada usaha penggalian local wisdom dari berbagai aspek budaya di berbagai daerah di Indonesia sejak 2008-2010. Maka diundanglah seorang pakar dari UGM yaitu Bapak Prof. Dr. Ahimsa untuk mandhegani (memimpin) komunitas diskusi Kearifan Lokal SBN.  Diskusi ini  mampu merancang sebuah konsep pengelolaan dan implementasi kearifan lokal (terutama yang bersumber dari seni) untuk disampaikan sebagai konsep kepada pemerintah dalam rangka pembentukan karakter dan jatidiri bangsa.

Salah satu implementasi  penggalian local wisdom yang dirancang SBN adalah “ndandaniperformance  secara kreatif kesenian unggulan  daerah agar tampil menjadi ikon daerah yang lebih berbobot dan modern, sehingga diminati oleh generasi muda dan mendapatkan apresiasi masyarakat secara nasional dan internasional, yang akhirnya mampu  memberikan  stimulan berbagai aspek kehidupan yang lain seperti pariwisata, ekonomi, dll. Sebagai pilot projek telah dilakukan Revitalisasi dan Pencintraan Kembali seperti Tari Kethek Ogleng dari Kabupaten Wonogiri. Usaha itu untuk membangun kembali citra visual Tari Kethek Ogleng Wonogiri agar sesuai dengan karakter, metaphor, dan symbol-simbol nilai budaya masyarakat Wonogiri itu sendiri. Selain  itu SBN dengan ahli-ahlinya mendampingi seniman setempat untuk menciptakan format baru (kemasan baru) tari Kethek Ogleng Wonogiri agar sesuai dengan kaidah-kaidah seni pertunjukan kontemporer namun tidak meninggalkan ciri khas ketradisionalannya. Kesenian unggulan daerah tingkat II yang lain diharapkan mendapatkan gilirannya kemudian.

 

3.      Teba (ruang lingkup) SBN

Menapaki tahun 2010 teba SBN semakin luas. Tugas yang diembannya semakin berat,  anggotanya semakin banyak,  pengabdiannya semakin luas maka perlu ditingkatkan lembaga organisasinya sebagai “Paguyuban”. Organisasi Intern SBN sendiri perlu penataan dan dikembangkan lebih jauh dengan dibentuk perwakilan SBN di daerah seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Selain itu banyak faksi organisasi yang bergabung dengan MOU sebagai keluarga besar SBN.  Di antaranya adalah Wayang Orang Maestro, Wayang Orang Remaja, Wayang Orang Bocah, Matra, Teater Pendapa 38, Parama Adikari, DHM, YMB,  Diklat, Akademi dll. Belum lagi banyaknya organisasi seperti SENA WANGI, PEWANGI, CATUR SAGOTRA dll. yang mempercayakan buah pemikiran dan konsep-konsep budaya kepada tim pakar SBN. Konsentrasi SBN lebih banyak tercurah pada pemikiran-pemikiran strategis dalam memberdayakan masa depan budaya bangsa.

 

4.      Reposisi SBN

Dengan semakin kompleks dan luasnya aktivitas pelestarian dan pengembangan kebudayaan Nusantara yang ditangani oleh SBN, di mana banyak lembaga dan institusi lain yang terlibat, baik itu dari institusi pendidikan maupun kepemerintahan, menyebabkan apa yang sudah dirintis oleh SBN memiliki nilai strategis bagi negara Indonesia. Mempertimbangkan hal itu pimpinan SBN kemudian  pada 29 Oktober 2010 SBN mengadakan Mukernas Reposisi guna mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan selama satu dasa warsa (2000-2010) sambil mereposisi dan merevitalisasi visi dan misi yang pada saat berdiri sudah ditetapkan.

SBN memposisikan diri menjadi salah satu  paguyuban yang menghimpun para budayawan, pengamat dan peminat budaya, serta para pelaku budaya yang mempunyai kesamaan visi dan minat dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang ada di Indonesia. Paguyuban Sekar Budaya Nusantara akan meningkatkan konsentrasinya pada kajian local wisdom dan segala wujud budaya gagasan/ide dari ke tujuh aspek Kebudayaan (sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem pengetahuan, organisasi sosial kemasyarakatan, bahasa, religi, kesenian) yang dapat mempengaruhi perilaku dan karya bangsa Indonesia, sehingga mereka mampu secara arif melakukan akulturasi, asimilasi dan sintesa saat harus bersentuhan dengan budaya asing/luar yang pada gilirannya diharapkan akan menghasilkan cerlang budaya yang merupakan masa depan budaya bangsa yang agung.

Meskipun SBN mereposisi dalam melaksanakan tugas yang lebih luas, namun segala program dan aktivitas dalam bentuk pagelaran dan aktivitas lapangan lain yang telah menjadi aktivitas rutin tahunan tetap dilakukan. SBN menyelenggarakan Munas Reposisi dalam rangka melaksanakan tugas Meniti Masa Depan Budaya Bangsa. Dengan demikian kegiatan SBN dapat menyentuh dan menjangkau seluruh aspek kehidupan budaya dan pandangan hidup bangsa.

Reposisi membawa warna baru karena SBN memposisikan diri sebagai wadah yang menghimpun semua kekuatan budaya yang bersama-sama menyambut globalisasi tetapi tetap mempertahankan jati diri bangsa kita, maka makin banyak pihak yang berkenan untuk bersatu dan bersama berjuang mengembangkan budaya bangsa di era global. Reposisi SBN melangkah ke depan untuk tampil sebagai pengkaji local wisdom dan menghubungkan local wisdom dengan ke tujuh unsur kebudayaan dalam wadah kebersamaan yaitu paguyuban.

 

5.      Kepercayaan Pemerintah

SBN mendapat kepercayaan pemerintah melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mewakili pemerintah Indonesia yang mendapat undangan Festival Ramayana bertepatan pada ulang tahun Raja Thaland. SBN dengan kreatif mengemas Episode Ramayana dalam bentuk mataya langen swara. Misi Budaya SBN di Thailand pada akhir November s.d. 9 Desember 2012 tersebut berjalan dengan sukses dan mendapat sambutan yang  baik.

 

6.     Catur Sagotra Nusantara

Setelah beberapa tahun SBN sejak tahun 2000 menangani masalah seni tradisi khususnya membangkitkan kembali eksistensi wayang orang yang disiarkan secara luas melalui TVRI,  rupanya gaung gerakan budaya itu  terdengar sampai ke Sampeyandalem  Pakubuwono XII. Alm SISKS Pakubuwono XII pada tahun 2004 kemudian memberikan kepercayaan kepada saya untuk membangkitkan kembali Catur Sagotra yang saat itu mengalami kemunduran. Tugas itu diberikan kepada saya pribadi tetapi tetap dibantu oleh teman-teman para pakar dan budayawan yang tergabung di SBN.

Catur Sagotra adalah buah gagasan Sinuhun Susuhunan Paku Buwono XII,  Ngarso Dalem Sultan Hamengkubuwono IX bersama Pengageng Pura Mangkunegaran dan Pakualaman   untuk menyatukan keempat trah agung MataramCatur atau empat  keluarga/trah agung Mataram; sagatra (bersatu kata/sepakat) untuk bersatu menjalin ikatan persaudaraan yang lebih erat melalui kegiatan budaya,  utamanya adalah budaya keraton.

Dalam konteks ini saya sebagai pemrakarsa SBN bersikap menjalankan mandat sebagai koordinator. Setelah melalui pembahasan yang panjang dan melelahkan karena harus menampung banyak sekali pemikiran-pemikiran yang datang dari berbagai pihak, akhirnya pada tanggal 28 April 2012 Catur Sagotra ditetapkan dengan akte notaris sebagai Catur Sagotra Nusantara. Proses terbentuknya Catur Sagotra Nusantara diterbitkan dalam buku tersendiri.

Catur Sagotra Nusantara di launching pada 12 Mei 2013. Pada launching tersebut tidak saja empat keraton (Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, Pakualaman) yang hadir namun diundang pula Keraton Cirebon dan Karang Asem, Bali. Selain juga akan melibatkan kerajaan Aceh Darussalam yang dalam waktu dekat ini SBN akan melakukan kajian dan pendataan dalam bentuk diskusi untuk menelusuri historiografi kerajaan Aceh Darusalam.

 

7.      PEWANGI

WOPA (Wayang Orang Panggung Amatir) adalah wadah yang menghimpun organisasi dan kelompok wayang orang non professional  pada era tahun 1970-80-an.  Namun pada dekade 90 an WOPA tidak aktif lagi seiring wafatnya Bapak Sampan Hismanto. Atas permintaan SENAWANGI Sekar Budaya Nusantara dimohon untuk membentuk wadah baru meneruskan spirit WOPA untuk mengkoordinasi berbagai organisasi wayang orang yang saat itu semakin berkembang.

Pada tahun 2008 Sekar Budaya Nusantara  memprakarsai berdirinya  PEWANGI (akronim Persatuan Wayang Orang Indonesia) sebagai wadah untuk menghimpun organisasi dan lembaga wayang orang baik amatir maupun professional menjadi satu. Melalui PEWANGI diharapkan terjadi komunikasi untuk  saling membantu, memajukan dalam teknik dan kualitas pertunjukan  wayang orang secara kreatif agar  bisa diterima oleh masyarakat modern.

Pada tahun 2010 Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film, Bapak Drs. Ukus Kuswara, MM meminta supaya PEWANGI tidak hanya menangani Wayang Orang yang sifatnya lokal namun lebih luas yaitu mencakup seni tradisi secara Nasional. PEWANGI mendapat tugas untuk menangani Seni Pertunjukan Teater Tradisi lainnya yang mau punah, karena dampak globalisasi di seluruh Indonesia. Ibarat kriwikan dadi grojogan (yang semula direncanakan kecil menjadi suatu yang besar). Kondisi menjadi lebih serius dan pemerintah menjadi sangat intens untuk segera bisa ditangani. Untuk cepatnya lalu digelar  sebuah acara Deklarasi tingkat pusat dengan menghimpun 20 organisasi seni pertunjukan teater tradisi baik  di pusat maupun beberapa daerah yang didatangkan ke Jakarta pada tanggal 30 Oktober 2010 di Gedung RRI Jakarta.

Tujuan pendirian PEWANGI ini adalah memberdayakan puncak-puncak budaya daerah di seluruh Indonesia menuju ke arah kemajuan peradaban, budaya persatuan dengan tidak menolak bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkaya kebudayaan tradisi, dan membentuk jatidiri dan watak bangsa Indonesia. Saat ini sentra-sentra kebudayaan daerah makin tersingkir dan terpinggirkan,  untuk itu kita perlu mengangkat kembali local wisdom sebagai pegangan dan kepercayaan masyarakat setempat. Kearifan lokal itu jika dihimpun akan menjadi wujud kebudayaan yang Bhinekka Tunggal Ika. Untuk menuju peradaban dan budaya persatuan unsur-unsur kebudayaan asing perlu disaring dengan melakukan kajian untuk mengakulturasikan budaya asing dengan kearifan lokal sehingga memperkaya dan mempertinggi derajat kehidupan dan kemanusiaan.

Pembentukan organisasi khusus wayang orang (gantinya WOPA) tetap menjadi perhatian SBN. Dalam waktu dekat SBN akan memprogramkan sebuah  pertemuan bawaraos organisasi wayang orangdan menawarkan membentuk organisasi baru IWORI (Ikatan Wayang Orang Indonesia) sebagai salah satu divisi dari PEWANGI.

 

8.      Taman Mini Indonesia Indah TMII

Perjalanan reposisi SBN menghadapi masa depan kehidupan bangsa sejak 2010-2012. Pada awal 2012  tepatnya pada bulan Mei 2012 SBN menerima surat dari TMII melalui pemrakarsa SBN untuk menduduki salah satu anggota Dewan Pembina TMII Devisi pewayangan. Dengan demikian  orientasi pengabdian budaya SBN semakin meluas diminta supaya SBN mempersiapkan diri mewujudkan pengabdian dalam status yayasan melalui  TMII.

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top