Bedhaya Sedhah Mirah & Fragmen Tripama Reviewed by Momizat on . Bedhaya Sedhah Mirah & Fragmen Tripama Bedhaya Sedhah Mirah ditampilkan untu kpertama kalinya pada dekalrasi Pewangi tanggal 30 Oktober 2011 di Gedung RRI J Bedhaya Sedhah Mirah & Fragmen Tripama Bedhaya Sedhah Mirah ditampilkan untu kpertama kalinya pada dekalrasi Pewangi tanggal 30 Oktober 2011 di Gedung RRI J Rating: 0
You Are Here: Home » Produksi » Bedhaya Sedhah Mirah & Fragmen Tripama

Bedhaya Sedhah Mirah & Fragmen Tripama

sedah mirah

Bedhaya Sedhah Mirah & Fragmen Tripama

Bedhaya Sedhah Mirah ditampilkan untu kpertama kalinya pada dekalrasi Pewangi tanggal 30 Oktober 2011 di Gedung RRI Jakarta.

Bedhaya Sedhah Mirah merupakan cetusan ide komtemplatif Ibu Nani Soedarsono tentang spirit yang menonjol dari tokoh Adipati Sedhah Mirah, seorang patih Kedhaton di Kraton Kasunanan Surakarta pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Ia seorang negarawan, tokoh wanita, diplomat (penasehat raja), budayawan, dan intelektual dengan sifat/karakter yang menonjol, yaitu: cantik, elegan, lembut sekaligus tegas, humanis dan religius.

Ide komtemplatif itu ditafsirkan dengan kreatif oleh Wasi Bantolo, M.Sn dengan menggabungkan unsur-unsur gerak-gerak indah koreografi yang dipadukan dengan keindahan busana berupa dodot bermotif Gadung Mlati. Unsur-unsur gerak koreografi menampilkan ketegasan (perang), kerukunan, kelembutan, keanggunan, dan kharismatik. Keklasikan dan untaian gerak para penari mengalir indah seolah tak terpisahkan dengan coretan indah kain batik yang didesain dengan ritual yang khusus.

Motif Gadung Mlati mempunyai falsafah yang luhur. Gadung adalah tumbuhan merambat dengan batang berduri-duri dan umbinya memabukkan, melambangkan sifat maskulin, keras, tegas, intelek, lambang olah pikir. Mlati sebagai puspa yang cantik dan wangi, simbol sifat feminin, lembut, emosi/olah rasa. Dalam falsafah Jawa, konsep Gadung Mlati mengandung arti menunggaling kawula lan Gusti, curiga manjing warangka.

Jiwa tari ini semakin kuat dengan garapan karawitan yang bersumber dari endapan jiwa B. Subono, M. Sen yang memadukan ide tari dalam lirik dan narasi puitis berupa geguritan (puisi jawa) dan juga tembang yang dinyanyikan penarinya untuk mendukung gagasan gerak. Diiringi karawitan yang klasik, suasana bedhayan keraton yang sifatnya magis, sakral, kontemplatif menjadi dominan. Para penari: Dona Dhian Ginanjar, Dhestian Wahyu Setiaji, Irwan Damasto, Danardono Sri Pamungkas, Elisa Vindu Nugrahini, Anggun Nurdiana Sari, Atik Setiani, dan Novinana Eka.

Dalam kesempatan yang sama digelar pula fragmen wayang orang dengan lakon Tripama yang menggambarkan tiga tokoh tauladan, yakni Karna, Kumbakarna, dan Sumantri.

About The Author

Number of Entries : 387

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top