Boma Nakasura Reviewed by Momizat on . BOMA NARAKASURA, PRABU  raja Trajutrisna. Ia adalah salah seorang anak Prabu Kresna, raja Dwarawati. Di masa mudanya bernama Sutija atau Sitija. Sitija artinya BOMA NARAKASURA, PRABU  raja Trajutrisna. Ia adalah salah seorang anak Prabu Kresna, raja Dwarawati. Di masa mudanya bernama Sutija atau Sitija. Sitija artinya Rating: 0
You Are Here: Home » Tokoh atau Karakter » Boma Nakasura

Boma Nakasura

BOMA NARAKASURA, PRABU  raja Trajutrisna. Ia adalah salah seorang anak Prabu Kresna, raja Dwarawati. Di masa mudanya bernama Sutija atau Sitija. Sitija artinya anak  Siti atau Dewi Bumi yaitu Batari Pertiwi. Kadang-kadang ia juga disebut Bomantara. Nama lengkapnya Sitija Boma Narakasura. Nama  ini nunggak semi.   Nunggak semi arti harafiahnya ibarat tonggak kayu yang sudah ditebang lalu tumbuh tunas baru. Arti kiasannya adalah memakai nama seorang yang sudah meninggal/dibunuhnya.  Ia pernah menaklukkan kerajaan pamannya  yakni Prabu Bomantara dari Kerajaan Prajatisa. Ia juga mengalahkan Prabu Narakasura yang memerintah Kerajaan Surateleng. Nama-nama raja  yang dibunuhnya lalu disandang sebagai kebanggaan dan legitimasi untuk mengambil alih kerajaan yang ditaklukkan.

Ibu Sitija seorang bidadari penguasa bumi bernama Dewi Pertiwi. Ayahnya adalah Batara Wisnu, sehingga dengan demikian Sitija juga dianggap sebagai salah seorang putra Prabu Kresna, karena raja Dwarawati itu seorang titisan Wisnu. Menurut pedalangan gagrak ‘versi’ Jawatimuran, Sitija lahir karena kama salah. Kisah kelahirannya berawal dari saat perang-tanding antara Batara Wisnu dengan Prabu Kebondanu, seorang gandarwa berkepala kerbau. Peperangan itu berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Belum ada yang kalah atau menang. Sekonyong-konyong dalam peperangan itu Batara Wisnu teringat dan merindukan istrinya, Batari Pertiwi. Kerinduannya  memuncak, sehingga jatuhlah air kama Batara Wisnu, berbaur dengan keringat Kebondanu.

Terjadilah keajaiban.  Gara-gara pun terjadi. Bumi  bergoncang, gunung-gunung meletus, dan badai melanda di mana-mana.  Batara Wisnu tercenung sejenak. Kesempatan sesaat itu dimanfaatkan Kebondanu, yang serta merta menubruknya. Untunglah saat itu Batara Wisnu sempat mencabut pusakanya, berupa Sugus, sejenis pisau.   Maka terkaparlah Kebondanu tergores sugus itu. Karena masih bergerak-gerak, Batara Wisnu segera mencengkeram kedua tanduknya, dan membetotnya dari kepala musuh itu. Saat kedua tanduk itu copot, genta kalung di leher Kebondanu lepas dan terlempar jauh. Sejenak kemudian terdengar suara sukma Kebondanu yang memberitahukan bahwa ia akan menyatu dengan anak Wisnu yang akan lahir.

Genta kalung Kebondanu ternyata terlontar sangat jauh. Jatuh ke pangkuan Sang Hyang Nagaraja. Karena terkejut Nagaraja bergumam: “Genta …” Kata-kata Sang Hyang Nagaraja amat bertuah, sehingga saat itu juga Genta itu berubah ujud menjadi manusia. Nagaraja mengangkatnya sebagai anak dan memberinya nama Gentayasa. Bersamaan dengan itu muncul pula seorang anak, yang menanyakan siapa ayahnya. Karena merasa tidak dapat memberi jawaban, Sang Hyang Nagaraja menyuruh anak itu pergi ke kahyangan, dan bertanya pada Batara Guru. Sebagai kawan perjalanan, Nagaraja menyuruh Gentayasa menemani anak itu, dan membekali mereka dengan pusaka Banyu Panguripan.

Kedua anak itu sampai di depan Batara guru. Guru memberi nama Boma. Tetapi karena pertanyaannya mengenai siapa bapaknya tidak juga mendapat jawaban, Boma mengamuk. Para dewa tak ada yang bisa menandingi. Oleh karena itu Batara Guru lalu menyuruh Boma mencari ayahnya di Kawah Candradimuka. Boma ternyata tidak mati walaupun ia masuk dan menyelam di Kawah Candradimuka, yang juga dikenal sebagai Kawah Neraka. Karena kagum akan kesaktiannya, Batara Guru lalu memberi nama tambahan, menjadi Boma Narakasura atau Boma Narakaputra.

Sitija alias Boma Narakasura seorang yang sakti, salah satu kekuatan Boma bersumber pada kekuatan bumi. Jika ia mati tetapi badannya masih dipelukan bumi, maka ia pun akan hidup kembali. Karena bumi adalah ibunya.

Mengenai kesaktian yang dimilikinya ini, sebagian dalang menyebutkan Boma memiliki Aji Pancasona, seperti yang juga dimiliki oleh Prabu Dasamuka dan Resi Subali. Namun sebagian dalang lainnya mengatakan Boma Narakasura tidak memiliki Aji Pancasona, melainkan kesaktian itu hanya karena kesaktian yang dimiliki ibunya. Sebagian dalang yang menganut pedalangan gagrak Yogyakarta mengatakan, oleh  ibunya Boma dibekali Aji Pancasonabumi, yang menyebabkannya hidup kembali bila mayatnya menyentuh bumi.

Boma mempunyai adik kandung bernama Siti Sundari, yang setelah dewasa diperistri Abimanyu. Sedangkan adik tirinya dari lain ibu antara lain adalah Samba.  Istri Boma bernama Dewi Agnyanawati. Sedangkan patihnya bernama Pancadnyana dan Arya Supawala. Kedua orang ini sebelumnya adalah patih Prajatisa dan Surateleng. Dalam cerita pedalangan disebutkan Boma memiliki kendaraan angkasa berupa burung garuda bernama Wilmana.

Dalam lakon Samba Juwing. Isteri Boma, Dewi Agnyanawati berbuat serong dengan adik iparnya sendiri, yakni Samba. Boma Naraksura memergoki skandal ini, dengan kemarahan yang meluap ia membunuh Samba dan mencabik-cabik tubuhnya. Prabu Kresna, ayah mereka, menilai bahwa sesungguhnya Samba belum sampai pada ajalnya, dengan Cangkok Wijayakusuma titisan Wisnu itu meng-hidupkan kembali Samba. Kresna tahu bahwa Dewi Agnyanawati sebelum menitis ke dunia dulu adalah isteri Samba.

Boma meninggal di tangan ayahnya sendiri Prabu Kresna karena telah berbuat angkara. Dengan bantuan Gatotkaca, saat Boma tewas terkena senjata Cakra, ksatria Pringgadani itu langsung menangkap tubuhnya dan melemparkannya ke dalam Anjang-anjang Kencana. Para bidadari kemudian membawa mayat Boma ke kahyangan dan menceburkannya ke Kawah Candradimuka.

About The Author

Number of Entries : 387

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top