Membangun Ekonomi Kreatif Berbasis Warisan Budaya & Kearifan Lokal Reviewed by Momizat on . Kongres I PEWANGI Membangun Ekonomi Kreatif Berbasis Warisan Budaya & Kearifan Lokal Proses Kongres I PEWANGI sebagai wadah persatuan teater tradisional sel Kongres I PEWANGI Membangun Ekonomi Kreatif Berbasis Warisan Budaya & Kearifan Lokal Proses Kongres I PEWANGI sebagai wadah persatuan teater tradisional sel Rating: 0
You Are Here: Home » Sarasehan » Membangun Ekonomi Kreatif Berbasis Warisan Budaya & Kearifan Lokal

Membangun Ekonomi Kreatif Berbasis Warisan Budaya & Kearifan Lokal

Kongres I PEWANGI

Membangun Ekonomi Kreatif Berbasis

Warisan Budaya & Kearifan Lokal

Proses Kongres I PEWANGI sebagai wadah persatuan teater tradisional seluruh Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 15-16 Desember 2011 di Sasana Adiguna TMII berjalan lancar dan penuh keakraban serta kebersamaan. PEWANGI adalah gagasan yang diprakarsai Ibu Nani Soedarsono yang setahun sebelum kongres telah dideklarasikan yaitu pada tanggal 30 Oktober 2010 di Auditorium RRI Jakarta.

Kalau kita runut latar belakang mengapa Ibu Nani memprakarsai berdirinya PEWANGI tidak terlepas dari gagasan beliau untuk  memberdayakan puncak-puncak budaya daerah di seluruh Indonesia menuju ke arah kemajuan adab, budaya persatuan dengan tidak menolak bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkaya kebudayaan tradisi, dan membentuk jatidiri dan watak bangsa Indonesia. Saat ini sentra-sentra kebudayaan daerah makin tersingkir dan terpinggirkan, untuk itu kita perlu mengangkat kembali local wisdom sebagai pega-ngan dan kepercayaan masyarakat setempat. Kearifan lokal itu jika dihimpun akan menjadi wujud kebudayaan yang Bhinekka Tunggal ika.

Mengenai kronologi sejarah singkat berdirinya PEWANGI, Ibu Nani Soedarsono dalam sebuah sambutannya menyatakan, “Pada dekade tahun 80-an pernah berjaya organisasi WOPA. WOPA (Wayang Orang Panggung Amatir) adalah organisasi perkumpulan wayang orang panggung, khususnya bagi wayang yang tidak komersial. WOPA didirikan oleh almarhum Bapak Sampan Hismanto. Namun semenjak Bapak Sampan Hismanto berpulang, WOPA mengalami kemunduran. Sekar Budaya Nusantara dengan ijin para pendiri WOPA kemudian meneruskan spirit WOPA dengan membentuk ASWOI (Asosiasi Wayang Orang Indonesia) pada tahun 2005 yang diketua oleh Prof. Dr. Waridi (Rektor ISI-Surakarta). Sayang ASWOI akhirnya layu sebelum berkembang seiring meninggalnya Pak Waridi. Kevakuman organisasi Wayang Orang juga menjadi keprihatinan Ketua DPH Senawangi Bapak H. Solichin. Bapak H. Solichin kemudian menyampaikan surat kepada Sekar Budaya Nusantara pada bulan Maret 2010 untuk membentuk dan memperbarui visi dan misi WOPA. Dengan didukung para pembina, pelaku, pemerhati wayang orang terutama di Jakarta, akhirnya saya memprakarsai lahirnya organisasi PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia)” Demikian Ibu Nani memaparkan.

Dalam sebuah rapat konsultasi antara Panitia Kongres PEWANGI dan pihak pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan (pada waktu itu). Dirjen Nilai Seni Budaya dan Film Bapak Drs. Ukus Kuswara, MM menyarankan agar teba PEWANGI lebih luas dari sekedar mengurus seni teater tradisi wa-yang orang. PEWANGI diminta menjadi mitra pemerintah untuk membina secara kreatif  Teater Tradisional Indonesia yang melibatkan keikutsertaan lembaga-lembaga teater daerah sebagai organisasi tingkat nasional. Akhirnya di dalam kongres I disepakati, PEWANGI adalah organisasi Persatuan Seni Teater Tradisional Seluruh Indonesia yang menggalang dan mempersatukan organisasi-organisasi teater tradisional se Indonesia. Lebih ditegaskan lagi bahwa PEWANGI bukan singkatan atau akronim tetapi sebuah nama organisasi.

Kongres I PEWANGI berlangsung lancar serta mendapat sambutan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang diwakili oleh Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Bapak Drs. Ukus Kuswara, MM. Bapak Ukus dalam pidatonya mengatakan, “Lahirnya Pewangi sebagai forum dialog dan komunikasi antarlembaga dan komunitas yang berkarya di dalam seni teater dan seni pertunjukan tradisional merupakan langkah strategis dalam rangka terus membangun ekonomi kreatif yang berbasis pada warisan budaya serta kearifan lokal. Beliau juga mengharapkan PEWANGI mampu melahirkan  program-program yang strategis yang bersama-sama pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya mewujudkan seni pertunjukan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Gubernur Lemhanas Prof. Dr. Budi Susilo Supandji pada hari pertama juga memberikan sumbangan pemikirannya. Beliau memandang keberadaan PEWANGI sa-ngat strategis dalam mendukung ketahanan budaya yang menjadi perhatian dari Lemhanas. Gubernur Lemhanas itu dalam akhir sambutannya menegaskan lagi harapannya, “Kiranya melalui kongres pertama Pewangi, dapat dilahirkan gagasan-gagasan konstruktif untuk menghantarkan kearifan nilai tradisi dan kearifan lokal untuk memperkokoh ketahanan budaya dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.”

Sebagaimana biasanya, dalam menyusun stra-tegi dan program-programnya, organisasi seperti PEWANGI sebaiknya mengacu kepada kebijakan-ke-bijakan pemerintah terhadap lembaga masyarakat demi kemajuan dan kesejahteraan. Dengan kata lain, PEWANGI masih tetap menjadi kekuatan masyarakat seni, namun sekaligus sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam melaksanakan programnya. Dengan demikian, PEWANGI dapat menjadi partner pemerintah sehingga dapat memperlancar tugas pemerintah seka-ligus masyarakat yang tergabung dalam PEWANGI agar lebih maju dan sejahtera.

Keputusan Kongres

Kongres yang berlangsung dua hari itu akhirnya menetapkan  pengurus inti PEWANGI,  yaitu Bapak Luluk Sumiarso sebagai Ketua Umum, Ibu Endang Purnomo sebagai Wakil Ketua, dan Bapak Prapto Yuwono sebagai Sekretaris Umum.

Ada lima rekomendasi yang disampaikan pada  Sidang Pleno PEWANGI. Kelima rekomendasi itu adalah sebagai berikut: Mendorong pemerintah untuk menetapkan seni pertunjukan teater tradisional sebagai warisan budaya yang dilindungi; mendorong pemerintah untuk menentukan strategi kebudayaan Indonesia; memberikan anugerah kebudayaan kepada pelaku/seniman tradisional terkait dengan prestasi, jasa, dan pengabdiannya; memberikan sertifikasi kepada seniman (Empu Paripurna, Empu Madya dan Empu Muda); dan mengaitkan “tema’ kongres dengan hasil sidang terutama adalah AD dan ART dan diimplementasikan ke dalam Program Kerja terutama masalah “seni kreatif”

Di dalam kongres tersebut juga dibahas langkah-Langkah tahun pertama kegiatan PEWANGI untuk mengembangkan organisasi di seluruh daerah selama lima tahun. Demi efektivitasnya, dianjurkan pimpinan  mengadakan rapat kerja untuk mengevaluasi perkembangan organisasi sekali dalam setahun. Langkah lain adalah segera mengadakan seminar untuk mengupas perkembangan seni teater tradisi bersama Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI oleh PEWANGI. Seminar tersebut hendaknya  bisa diikuti oleh seluruh daerah atas biaya daerah dan penyelenggaraannya diharapkan mendapat bantuan dari Kementerian atau Donatur.

Evaluasi

Beberapa evaluasi yang disampaikan oleh pemra-karsa, Ibu Nani Soedarsono, dalam kongres yang perlu dicermati adalah yang berikut. Pertama, jika nama PEWANGI  masih  dianggap kurang tepat menjadi ke-pendekan dari Persatuan Teater Tradisi Seluruh Indo-nesia, dapat diadakan perubahan nama melalui KLB atau Kongres II lima tahun yang akan datang, sekaligus mengadakan Deklarasi Nasional, dengan deklarator sejumlah organisasi teater tradisional seluruh Indonesia.

Kedua, PEWANGI dipimpin Ketua Umum diban-tu Wakil Ketua Umum, yang melibatkan seluruh dekla-rator sebagai pengurus dalam bentuk forum dengan tugas sesuai pilihannya masing-masing, melalui acara penetapan Anggota Pengurus PEWANGI. Perlu adanya langkah-langkah konkret untuk menindaklanjuti kepu-tusan hasil Kongres, yakni meneliti lagi AD dan ART serta membuat surat edaran kepada daerah melalui Pemda untuk membentuk PEWANGI Daerah. Ketiga, pembagian bidang dalam struktur disesuaikan dengan konsep strategi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, seperti yang beikut: Program/implementasi, kelembagaan (inventarisasi dan pengesahan PEWANGI Daerah), peningkatan mutu (ndandani dan pendidikan), apresiasi (festival, pergelaran, pameran, misi, lomba, seminar, promosi, dll.), kemitraan (internal/eksternal dengan  pemerintah dan swasta), komunikasi (penerbitan, majalah, e-mail, web-site dll.), dan kesejahteraan (koperasi, donasi, usaha-usaha dll.)

About The Author

Number of Entries : 387

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top