Sarasehan Bedah Budaya Wanita sebagai Agen Budaya Reviewed by Momizat on .   Sarasehan Bedah Budaya Wanita sebagai Agen Budaya Salah satu program pengkajian dan diskusi ilmiah Sekar Budaya Nusantara yang telah berjalan secara ruti   Sarasehan Bedah Budaya Wanita sebagai Agen Budaya Salah satu program pengkajian dan diskusi ilmiah Sekar Budaya Nusantara yang telah berjalan secara ruti Rating: 0
You Are Here: Home » Sarasehan » Sarasehan Bedah Budaya Wanita sebagai Agen Budaya

Sarasehan Bedah Budaya Wanita sebagai Agen Budaya

woro astuti

 

Sarasehan Bedah Budaya Wanita sebagai Agen Budaya

Salah satu program pengkajian dan diskusi ilmiah Sekar Budaya Nusantara yang telah berjalan secara rutin adalah sarasehan bedah budaya. Kali ini sarasehan bedah budaya Jumat Kliwonan diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Ibu 22 Desember 2011, bertempat di Pendopo Paran Karsa, Jl Duren Tiga 38, Jakarta. Tema sarasehan pun disesuaikan dengan event Hari Ibu. Pembicara malam itu adalah Ibu Woro Mastuti, seorang dosen Studi Jawa FIB-UI yang mencoba menyoroti tokoh Dewi Kunthi sebagai tokoh ibu dalam internalisasi budaya dan pembentukan karakter para puteranya, yaitu Pandawa.

Acara sarasehan bedah budaya kali ini diawali dengan nobar atau nonton bareng hasil rekaman pentas matra Fajar Wilwatikta yang dimainkan oleh mahasiswa dan dosen FIB-UI dengan sutradara Sunu Wasono di Gedung VII Kampus FIB-UI, bertepatan dengan peringatan Dies Natalis FIB UI.

Ibu Nani Soedarsono sebagai sahibul bait kemudian memberikan wejangannya. Dalam wajangannya kali ini tersirat sebuah penyesalan bahwa akhir-akhir ini banyak tokoh-tokoh wanita yang terjebak pada perilaku yang tidak pantas dengan melakukan tindak pidana. Beberapa tokoh wanita seperti Miranda Gultom dan Nunun Nurbaeti sempat disebut pemrakarsa SBN tersebut. Keprihatinan dan kekecewaan itu tentu beralasan, mengingat Ibu Nani adalah salah satu tokoh pendobrak yang mengantarkan wanita Indonesia ke pintu gerbang emansipasi sehingga wanita mendapat peran yang sejajar dengan pria melalui program-program pemberdayaan wanita yang digagasnya seperti, PKK, Dharma Wanita dan HWK. “Para wanita Indonesia yang seharusnya menjadi simbol kelembutan, simbol kejujuran, dan tiang negara sekarang justru cenderung kebablasan!” demikian ujar beliau dalam nada prihatin.

Beberapa tokoh dosen dan mahasiswa UI dari berbagai disiplin, seperti hukum, arkeologi, studi Jawa, filsafat, sastra Jerman dll. hadir mengelilingi Pendopo Paran Karsa. Rekan-rekan dari WO Bharata, Music live, dan Grup Macapat Radya Agung malam itu juga menyemarakkan acara dengan aktif berdiskusi yang diselingi macapatan. Bapak Bambang Trijoko, seoarang Staf Ahli Kementrian Pemuda dan Olahraga dengan suara baritonnya mau nembang sekar tengahan Girisa.

Dalam sesi tanya jawab yang dipandu moderator Undung Wiyono diskusi berlangsung seru dan berjalan dengan antusias.  Suasana bertambah gayeng ketika Ibu Woro menyampaikan topik ‘Perempuan dalam Dinamika Kehidupan.” Pertanyaan gayung bersambut ketika penceramah menyampaikan bahwa di dalam Serat Candrarini (karya Sri Mangkunegara IV) disebutkan bahwa konsep perempuan Jawa ada sembilan. Kesembilan itu adalah setia kepada suami, rela dimadu, mencintai sesama, terampil dalam pekerjaan wanita, pandai merawat diri, sederhana, pandai melayani kehendak suami, menaruh perhatian kepada mertua, gemar membaca buku yang berisi nasehat.

Para peserta wanita diwakili oleh Ibu Margaretha menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap konsep Sri Mangkunegoro tersebut, terutama tentang wanita yang harus rela dimadu. Sementara peserta pria hanya senyum-senyum saja. “Konsep tersebut memiliki kecenderungan melemahkan kedudukan wanita dan memanjakan laki-laki.” Ujar Ibu Woro memuaskan para penanya wanitanya.

“Wadon nir wadonira, karana kaprabaweng salaka rukmi” ujar Mbak Woro yang juga mahasiswa S.3 yang tengah meneliti wayang potehi dan naskah Sie Jin Kie itu. Ia  menyitir kata-kata pujangga Jawa R Ng. Ronggowarsito,  “Wanita sudah melupakan fitrahnya sebagai wanita karena silau perak dan emas!. Perempuan/Istri/Ibu di Indonesia berada dalam struktur sosial, ekonomi, politik dan budaya Indonesia yang mengatur perempuan dengan rumusan-rumusan dan keseragaman, sehingga pandangan stereotip perempuan Indonesia tetap melekat pada pribadi perempuan Indonesia. Dalam situasi ini, jelas perempuan Indonesia sulit berkembang sebagai pribadi, sehingga perempuan sulit menemukan jatidiri dan sulit mengembangkan produktivitas pribadinya!”

Rekayasa perempuan dalam pembagian kerja akan terus berlanjut. Hal ini tampak dalam pendidikan yang sudah ditanamkan sejak dini pada anak-anak melalui buku bacaan SD. ‘Ibu pandai memasak. Bapak bekerja di kantor. Budi membantu ayah bekerja. Wati ikut ibu ke pasar.’ Slogan perempuan sebagai kanca wingking atau swarga nunut neraka katut tidak berlaku sepenuhnya. Proses perubahan sosial yang terjadi pada penduduk perempuan menunjukkan posisi yang semakin mantap. Kemantapan itu terbukti semakin banyaknya perempuan terlibat di berbagai pekerjaan produktif. “Sumbangan perempuan dalam bidang ekonomi tidak bisa diabaikan.” Ujar dosesn Sastra Jawa itu berapi-api.

Dalam fitrahnya sebagai insan budaya, perempuan mempunyai peran dalam meningkatkan kualitas hidup dan budi pekerti generasi penerus. Wanita adalah pembentuk watak dasar putranya. Tentu ia harus tetap dalam kodratnya yang lemah lembut, hidup bersahaja dan sederhana, matanya memancarkan kasih sayang yang mendatangkan ketenangan dan ketenteraman, memiliki kesabaran dan keiklasan tanpa pamrih.

Ketika diminta untuk memberikan kesimpulan ceramahnya, Ibu Woro secara puitis mengatakan, “Wanita ibarat bunga mawar. Harum baunya, elok rupanya dan berduri. Walaupun sudah rupawan, cantik dan elok rupanya, sudah menjadi kusuma bangsa tetapi sebagai manusia masih ada cacatnya, yaitu berduri. Yang Mahasempurna hanya Tuhan Yang Maha Esa. Selamat Hari Ibu.” Demikian Ibu Woro menutup bedah budaya malam itu.

About The Author

Number of Entries : 387

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top