Serat Menak dan Kisah Cinta Putri Cina Reviewed by Momizat on . Serat Menak dan Kisah Cinta Putri Cina Oleh Amir Rochkyatmo Gegarane wong akrami, dudu bandha dudu rupa, among ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen gampang Serat Menak dan Kisah Cinta Putri Cina Oleh Amir Rochkyatmo Gegarane wong akrami, dudu bandha dudu rupa, among ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen gampang Rating: 0
You Are Here: Home » Kajian » Serat Menak dan Kisah Cinta Putri Cina

Serat Menak dan Kisah Cinta Putri Cina

Serat Menak dan Kisah Cinta Putri Cina

Oleh Amir Rochkyatmo

Gegarane wong akrami, dudu bandha dudu rupa, among ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen gampang luwih gampang, yen angel-angel kalangkung, tan kena tinumbas arta. Puteri Cina gelasaran melas asih, mara Kelaswara, pedhangen juren wak mami, aja andedana lara.

Kutipan di atas adalah penggalan kalimat dari cerita Menak yang pernah dikenal dan berkembang secara lisan di kalangan masyarakat penggemarnya. Cerita Menak di dalam tradisi tulis terungkap di dalam Serat Menak, karya sastra Jawa bernafaskan Islam yang berisi kisah kepahlawanan tokoh cerita Amir Ambyah yang merupakan transformasi dari sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah. Wiracarita lainnya adalah yang bersuasana Hindu dan epos yang berasal dan tumbuh berkembang dari negeri sendiri.Kisah kepahlawanan yang disebutkan pertama adalah Serat Menak, Serat Iskandar, dan Serat Yusuf.Wiracarita yang berpredikat agama Hindu adalah Ramayana dan Mahabharata, sedangkan epos produk negeri sendiri adalar Serat Panji.

Adapun tokoh dalam cerita Serat Menak adalah Amir Ambyah, dalam lafal Jawa, Amir Wong Agung Jayeng-rana, Wong Agung Surayeng Bumi, Jayadimurti dan lain-lain. Nama-nama itu kemudian dianggap sebagai tokoh cerita Jawa. Hikayat Amir Hamzah yang menjadi sumber penggubahan Serat Menak pada awalnya berinduk dari sastra Parsi, Qissa Il Emir Hamza, sebuah cerita kepahlawanan yang menampilkan tokoh cerita Amir Hamzah (van Ronkel, 1895). Di dalam cerita itu tokoh Amir Hamzah digambarkan sebagai pahlawan yang hebat dan gagah berani, selaku tokoh penyebar agama yang dibawa Nabi Ibrahim.Penceritaannya disesuaikan dengan suasana di tanah Jawa. Di Jawa Barat, Jawa Timur (Blambangan, Lumajang), kata menak merupakan sebutan untuk gelar bangsawan, seperti Menak Prasanta, Menak Sengkan, dan Menak Sapala (Pigeaud, 1970:309).

Di dalam cerita Menak, Amir Ambyah adalah anak Abdul Muthalib, seorang pejabat di Mekkah.Ia ditampilkan sebagai seorang pahlawan Islam yang berperang dari satu negeri ke negeri lain untuk menyebarkan agama dan melawan raja kafir. Populerisasi Serat Menak di kalangan masyarakat Jawa pada abad ke-19 dan ke-20 dilakukan dengan penggunaan nama-nama diri yang dipinjam dari nama-nama tokoh Serat Menak, seperti Amir Ambyah, Maktal, Jayusman, Jumiril, Lukman, Aruman, Kuraisin, Sulasikin, Sudarawerti, Muninggar, Kadarwati dan Tamtanus.

Masuknya cerita Menak ke dalam kesustraan Jawa diperkirakan pada abad ke-17 (lanjutan lihat Menak Sarehas, bab XIII). Pada abad ke-18 serat Menak versi Jawa ditulis di keraton Jawa Tengah.Penulisan pertama kali di keraton Kartasura.Naskah Menak Kartasura termasuk naskah Serat Menak yang tertua.Karya itu merupakan gubahan dari sastra Melayu Hah. Pada saat itu terjadilah proses ambil-alih. Penulisan karya gubahan dilakukan atas perintah Kanjeng Ratu Mas Blitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I di Kartasura. Saat penulisannya adalah hari Jumat, tanggal 17 bulan Rajab, tahun Dal, wuku Marakeh, mangsa Kasa, dengan sengkalan: Lenging welut rasa purun (1639 AJ atau 1717 AD), ditulis oleh carik Narawita, menantu Waladana.

Serat Menak Kartasura masih dekat sekali dengan Hikayat Amir Hamzah. Karya itu berbahasa Melayu yang ditengarai masih adanya kata-kata Melayu, di antaranya temen sira nora kasih, tumpesen donemu (=olehmu), sang nata dhateng turut dan Ambyah kang dipun beri (Poerbatjaraka, 1940:2). Naskah Menak Kartasura dikelola oleh Perpustakaan Nasional RI, dengan nomor koleksi BG 613, ditulis pada dluwang ukuran 24×35 cm sebanyak 1.188 halaman, dalam bentuk tembang dan aksara Jawa corak keraton pada masa itu (Poerbatjaraka, 1940:9).

Pada abad ke-18, masa kapujanggan di Surakarta, Yasadipura menyusun gubahan Serat Menak bersumber dari Menak Kartasura (Pigeaud, 1967:213-214; Poerbatjaraka, 1957:168).Serat Menak gubahan Yasadipura (untuk selanjutnya disebut Menak Yasadipura), lebih diperluas.Karya itu disusun dalam bentuk tembang macapat.Teks Menak Yasadipura termasuk teks yang terpanjang, dan merupakan saduran langsung dari Menak Kartasura.Teks terdiri dari 5.200 halaman di dalam naskah.

Naskah Menak yang lain lagi adalah naskah Br.27 koleksi Perpustakaan Nasional RI, ditulis dengan aksara Pegon, berbentuk tembang. Isinya lebih kurang paralel dengan Menak Kartasura (Poerbatjaraka, 1940:53-54).Sejarah Darma PA 0020 adalah versi Serat Menak yang lebih ringkas daripada versi Yasadipura, berangkat tahun 1720 AJ atau 1794 AD.Sejarah Darma berisi cerita Menak yang utuh seperti Menak Kartasura.Menak Yasadipura terbagi menjadi episode-episode.Masing-masing merupakan satu lakon penuh.

Pada awal abad ke-17 terdapat naskah Menak (Jawa) dalam lontar sebanyak 119 lembar.Pada tahun 1627 Andrew James menyerahkan naskah itu ke Bodleian Library.Dengan demikian, dua abad sebelum Yasadipura menulis Serat Menak sastra Amir Hamzah telah masuk ke sastra Jawa (Ricklefs & Voohoeve, 1977:43, dikutip Sedyawati dkk, 2001:319).

Cerita Menak lain yang bukan cerita induk adalah Menak Pang atau Menak Sempalan. Dari cerita ini yang paling digemari adalah Rengganis dan Prabu Lara.Naskah Menak carangan banyak tersebar di Lombok dalam bentuk naskah lontar (Pigeaud, 1967, Poerbatjaraka 1940, dikutip Sedyawati dkk, 2001:323).Naskah lainnya adalah Rengganis Madura no. lontar 7, nomor 9, Rengganis Madura BG 775, dan Rengganis Sempalan Br. 531.

Persebaran Hikayat Amir Hamzah dan Cerita Menak

Hikayat Amir Hamzah ditulis dan dibaca untuk membangkitkan semangat juang bagi para prajurit yang akan maju perang. Dalam de Roma van Amir Hamza,  van Ronkel melacak sejauh mana Hikayat Amir Hamzah dari sastra Melayu menyebar luas ke daerah lain dalam bahasa setempat (van Ronkel 1895, Sedyawati dkk, 2001:318).

Penyebaran di dalam sastra Jawa melalui Menak Kartasura

Hikayat Amir Hamzah berkembang menjadi Menak Yasadipura beserta Menak Pang dan Menak Sempalan lainnya.Sastra Bugis Makassar mengenal Hikayat Amir Hamzah. Sastra Sunda pun memiliki Serat Menak yang merupakan alih bahasa dari Serat Menak versi Jawa dan versi lain dengan nama Amir Hamzah (van Ronkel 1895, dikutip Sedyawti dkk: 318). Di kalangan masyarakat Sasak di Lombok, cerita Menak ditampilkan dan dikemas dalam seni pertunjukan wayang kulit Sasak dengan repertoire cerita Menak. Di Lombok cerita Menak bersumber dari naskah lontar ditulis dari bahasa Jawa dengan huruf Jejawan, ditulis sesuai de-ngan kawinannya (Sadarudin, tt), dengan tokoh cerita Wong Menak, Jayengrana, Jayeng Tinon, Jayeng Palugon, sedangkan tokoh-tokoh cerita lainnya Umar Maya, Maktal, Taptanus, Saptanus, Umarmadi dan Alam Daur.

Kedekatan dengan Cerita Panji

Cerita Menak dari segi strukturnya sama dengan cerita Panji. Kemiripan bentuk ataupun sifat dan karakter serta nama-nama tokoh cerita mengacu pada Serat Panji.Sejatinya cerita Menak adalah cerita Panji dengan tokoh cerita orang asing.Nama-nama tokoh cerita banyak kemiripannya dengan nama-nama tokoh cerita Panji, seperti Dewi Muninggar dipersamakan dengan Galuh Candrakirana, Amir Hamzah dipadankan dengan Inu Kertapati. Oleh karena itu, julukan Amir Ambyah pun dipersamakan de ngan Panji, yaitu Jayengrana, Jayeng palugon, Jayadimurti (Poerbatjaraka, 1952).

Kesamaan lainnya adalah adanya punakawan.Punakawan Panji sebanyak dua orang.Mereka adalah Jurudyan dan Prasanta, atau Jodheg dan Prasanta, atau Bancak-Doyok, Penthul-Tembem. Wong Agung Menak juga diiringi dua punakawan, yaitu Umarmaya dan Umarmadi yang merupakan perubahan lafal dari ‘Amr ibn Omayya dan ‘Amr ibn Mahdi Karib (Pigeaud 1950:238).

Begitu lekatnya sastra Menak dengan sastra Panji sehingga motif cerita dan intisarinya sama. Cerita Rengganis yang merupakan sempalan dari cerita Menak sangat diilhami oleh sastra Panji (Poerbatjaraka, 1952).

Cerita Menak dimulai sewaktu Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Abbas (putera Abtul Mutalib), mengenai riwayat kepahlawanan Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana, yang terkenal sebagai tokoh gagah berani serta perkasa dalam menyebarkan agama Islam. Dalam perjuangannya ia menaklukkan para raja kafir. Karena kegagahannya, banyak puteri raja yang jatuh cinta kepadanya. Wong Agung Jayengrana memperluas wilayah kekuasaannya, selalu berjaya di medan perang, diikuti perkawinan Amir Ambyah dengan puteri raja yang dikalahkannya.

Pola Serat Menak (Jawa) tidak jauh berbeda dengan Hikayat Amir Hamzah berbahasa Melayu.Pola kedua karya itu mirip wiracarita Panji, yaitu mitos beredarnya matahari dan bulan yang selalu cari-mencari susul-menyusul (Soetarno 2004, mengutip dari Wawardi, 1985). Kisah yang terungkap dalam  Serat Menak mengandung misi penyebaran agama Islam, yaitu pertikaian antara Wong Agung Menak dengan Prabu Nusyirwan, raja negeri Medayin, mertua Amir Ambyah. Konflik itu tudak pernah berakhir.Di negeri Medayin selesai, pindah ke negeri lain, begitulah seterusnya (Soetarno, 2004).

Serat Menak karya Resowijoyo terdiri dari 11 bagian, yakni Menak Lare, Menak Jobin, Menak Ranjun, Menak Cina, Menak Malebari, Menak Ngambar Kustup, Menak Kalakodrat, Menak Gulangge, Menak Jamintoran, Menak Jaminambar, dan Menak Talsemat. Serat Menak Yasadipura yang jalan ceritanya panjang itu pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam tembang macapat, berhuruf Jawa sebanyak 48 jilid, dengan beberapa judul. Judul tersebut dihubungkan nama-nama negeri dan rajanya, nama tokoh cerita, nama kerajaan yang memerangi Amir Ambyah dan nama peristiwa, sebagai berikut: Menak Sarehas 1 jilid, Menak Lare 4 jilid, Menak Serandhil 1 jilid, Menak Sulub 2 jilid, Menak ngajrak 1 jilid, Menak Dhemis 1 jilid, Menak Kaos 1 jilid, Menak Kuristam 1 jilid, Menak Biraji  1 jilid, Menak Kanin 1 jilid, Menak Gandrung 1 jilid, Menak Kanjun 1 jilid, Menak Kandhabumi 1 jilid, Menak Kuwari 1 jilid, Menak Cina 5 jilid, Menak Mukub 1 jilid, Menak Malebari 4 jilid, Menak Purwakandha 3 jilid, Menak Kustup 2 jilid, Menak Tasmiten 1 jilid, Menak Pirkaras 1 jilid, Menak Kalakodrat 2 jilid, Menak Sorangan 2 jilid, Menak Jaminambar 3 jilid, Menak Jamintoran 2 jilid, Menak Talsemat 1 jilid dan Menak Lakad 3 jilid.

Kisah Puteri Cina

Ketampanan dan keperkasaan Wong Agung Menak Amir Ambyah sempat menyebar luas dan terdengar sampai di negeri Cina sampai mengusik perhatian puteri Cina bernama Adaninggar.Ia jatuh cinta dan ingin diperistri sosok pria yang tampan gagah perkasa dan romantis. Puteri Cina menggelar upaya agar dapat menggapai keinginannya untuk bertemu dengan Wong Agung Menak dan menggaetnya.Ia bersama pasukannya menuju puser bumi, tempat Amir Ambyah bermukim. Dengan kesaktiannya Puteri Cina dapat menculik Amir Ambyah dan disembunyikan di goa yang rumit tersembunyi di lereng perbukitan. Sementara itu, Amir Ambyah telah kawin dengan Kelaswara, puteri negeri Kelan, sedangkan Dewi Muninggar isteri Amir Ambyah telah meninggal dunia. Saat Amir Ambyah sedang berkasih-kasihan, perasaan Adaninggar yang terbakar cemburu kian berkobar, lalu ia melabrak serta menyeret Kelaswara ke luar kamar tidur. Kelaswara pun hampir kewalahan, maka ia lantas melepaskan panah saktinya ke Adaninggar. Adaninggar jatuh terhempas bersimbah darah.

Kelahiran Lamdahur

Prabu Salhalsah di negeri Selan, seorang raja yang gemar berburu. Pada suatu hari ia melakukan wisata perburuan bersama para wadyabalanya. Suatu saat ia terpisah dari pengawalnya, jadilah ia berjalan terlunta-lunta, dalam keadaan lapar dan haus selama tiga hari di perjalanan, di tengah hutan itu. Akhirnya, sampailah Prabu Salhahsah  di pertapaan Seh Bakar Abunisya. Seh Bakar Abunisya tinggal di pertapaan bersama puterinya yang masih remaja dan jelita, bernama Retna Basirin. Dari temu pandang pertama raja Salhalsah jatuh cinta pada Retna Basirin dan  rupanya ia pun tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya, raja Salhalsah dan Retna Basirin menikah dan memperanakkan seorang yang sosoknya tinggi besar luar biasa, diberi nama Lamdahur. Saat dewasa Lamdahur bergabung dengan pasukan Amir Ambyah dalam memerangi raja-raja kafir.

Penerbitan Cerita Menak

Penerbitan cerita Menak atau penerbitan yang berkaitan dengan sastra Menak di antaranya adalah Serat Menak (Volks Leatuur 1832), Serat Menak I-VIII (Winter 1854), Serat Menak Purwakandha, Serat Menak I-VIII (Jayasubrata 1883-1889), De Roman van Amir Hamza (van Ronkel 1895), Serat Menak Yasadipura, tembang macapat, aksara Jawa, 24 judul sebanyak 46 jilid (Balai Pustaka 1933), dan Serat Menak Yasadipura, alih aksara dari edisi aksara Jawa, Balai Pustaka 1933.

Transformasi ke Seni Pertunjukan

Sastra Menak bersosialisasi dengan khalayak peminatnya tidak hanya melalui jalur sastra. Transformasi ke seni pertunjukan pun ikut menunjang proses sosialisasi dengan masyarakatnya. Penampilan repertoire ikut mempercepat pencapaian sasaran penyebarluasan dan peningkatan wawasan.Beberapa seni pertunjukan yang menampilkan repertoire Menak adalah Tradisi Lisan Kentrung, di pesisir utara pulau Jawa, Teater Tutur Lemblung di daerah Banyumas dan Kedu. Wayang Golek Menak di Kebumen, Wayang Krucil di Kediri dan pesisir utara Jawa Timur. Wayang Cepak di Cirebon, Wayang Kulit Sasak di Lombok, Tari Wayang Golek di Keraton Yogyakarta, Serimpi Puteri Cina – Kelaswara, Wayang Thengul pertunjukan Ngamen dan Pergelaran padat fragmen wayang Golek Menak, lakonnya dikembangkan dari episode.

Padanan tokoh cerita wayang Menak dengan tokoh cerita wayang Purwa

Ada sejumlah tokoh cerita wayang Menak yang persamaan (padanan) dengan tokoh cerita wayang Purwa. Inilah nama-nama tokoh cerita wayang Menak yang menunjukkan padanan itu: Bekti Jamal (Abiyasa), Aklas (Sengkuni), Betal Jemur (Abiyasa), Nursewan (Suyudana), Patih Bestak (Duma), Umarmaya (Narada), Amir Ambyah (Arjuna), Maktal (Narayana), Tamtanus (Setyaki), Lamdahur (Werkudara), Umarmadi (Burisrawa), Jobin (Seteja), Bahman (Bogadenta), Maryunani (Irawan), Muninggar (Sembadra) Sudarawerti (Srikandhi), Sirtupilaeli (Larasati), Lelasara (Srikandhi), Adaninggar (Banowati) dan Imam Suwangsa (Angkawijaya).

Dikarenakan berbagai dalih, wayang Golek Menak dan sastra Menak sekarang ini dalam kondisi mati suri, hidup tak hendak mati tak mau.Masyarakat pendukung/peminat wayang golek Menak mulai kurang berminat menonton pertunjukan tradisional.Pertunjukan pun jarang dilakukan, tanggapan sepi.Kelanjutannya seniman penyaji menjadi lesu, daya berkreasi mundur.Hadirnya Sekolah Tinggi Seni dan Institut Seni sedikit banyak menahan laju perjalananan seni pertunjukan tradisional menuju ambang kepunahan.

Acuan:

1934. Menak Cina. Betawi Centrum: Bale Pustaka.

Pigeaud, Th.P 1967, 1970 Literature of Java I, II The Hague:

Martinus Nijhoff

Poerbatjaraka, P, Voorhoeve, C. Hooykeas. 1950. Indonesische                                 Handskriften. Bandung: AC Nix & Co.

Poerbatjaraka, Prof DR RMNg. 1952.  Kepustakaan Jawi. Jakarta:                               Penerbit Jembatan.

Ronkel, Ph. Van.1895. De Roman van Amir Hamza. London:

E.J. Drill.

Sadarudin. 2004. “Mengenal Wayang Golek Menak Sasak,”

Makalah Pekan Wayang Menak yang diselenggarakan

di Bentara Budaya,  Jakarta.

Sedyawati, Edi dkk. 1989. Laporan Seminar Sastra Abad ke-18.

Depok: Universitas Indonesia.

Sindu, Sunarto. 2004. “Pergelaran Wayang Golek Menak Kebumen,”                      Makalah Sarasehan Pekan Wayang Menak yang

diselenggarakan di  Bentara Budaya, Jakarta.

Soetaryo. 2004. “Wayang Golek Menak,” Makalah Sarasehan

Pekan Wayang Menak  yang diselenggarakan di Bentara                               Budaya, Jakarta.

About The Author

Number of Entries : 387

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top