Transaksi Estetis Dalam Pergelaran Wayang Wong Reviewed by Momizat on . Transaksi Estetis Dalam Pergelaran Wayang Wong Oleh: Drs. Sarjiwo, M.Pd  Bertepatan dengan peringatan 50 tahun (tahun emas) SMK I Kasihan Bantul, Yogyakarta—dul Transaksi Estetis Dalam Pergelaran Wayang Wong Oleh: Drs. Sarjiwo, M.Pd  Bertepatan dengan peringatan 50 tahun (tahun emas) SMK I Kasihan Bantul, Yogyakarta—dul Rating: 0
You Are Here: Home » Kajian » Transaksi Estetis Dalam Pergelaran Wayang Wong

Transaksi Estetis Dalam Pergelaran Wayang Wong

foto kajian transaksi estetis...

Transaksi Estetis Dalam Pergelaran Wayang Wong

Oleh: Drs. Sarjiwo, M.Pd

 Bertepatan dengan peringatan 50 tahun (tahun emas) SMK I Kasihan Bantul, Yogyakarta—dulu SMKI “Konri” Yogyakarta—pada tanggal 7—10 November 2011 telah diadakan berbagai agenda pergelaran/pertunjukan yang dilakukan baik oleh para siswa, komunitas seniman Yogyakarta, maupun alumni. Pertunjukan Karawitan diadakan pada  hari Senin, 7 November 2011, Wayang Wong, pada  hari Selasa, 8 November 2011, Kethoprak, pada  hari Rabu, 9 November 2011, Bedhaya, pada hari Kamis, 10 November 2011, dan orasi budaya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Berbagai potensi yang berakar dari tradisi dicoba untuk diekspresikan kembali disertai inovasi-inovasi yang ditawarkan. Salah satu materi pergelaran tersebut adalah pergelaran Wayang Wong yang dipentaskan pada hari Selasa 8 November 2011 oleh para siswa, seniman tari, serta  para alumni SMK I Kasihan Bantul Yogyakarta,  dengan mengambil cerita “Sesaji Rajasurya.”

Tulisan ini dibuat sebagai hasil respon penulis selaku penonton terhadap bentuk garapan  yang telah disajikan dalam pergelaran tersebut. Sebagaimana diketahui, Wayang Wong sebagai salah satu jenis seni pertunjukan, mempunyai ciri-ciri atau identitas masing-masing yang menyertainya.Wayang Wong Gaya Surakarta, Wayang Wong Gaya Yogyakarta, Wayang Wong Gaya Bali dan sebagainya mempunyai muatan keindahan atau estetika yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dari bentuk penyajian dengan ciri-ciri tersebut, baik secara audio maupun visual, penonton akan mengetahui genre Wayang Wong yang disaksikannya. Ciri-ciri  tersebut dapat diamati, misalnya, dari tata busananya, gerak tarinya, dialognya, iringannya, dan sebagainya yang masing-masing genre telah mempunyai identitas sendiri-sendiri. Akan tetapi, kesemuanya itu akan menjadi kabur, bahkan tidak jelas batas-batas genrenya ketika pergelaran Wa-yang Wong itu dilakukan oleh para siswa, seniman, dan alumni SMK I Kasihan Bantul Yogyakarta pada tanggal 8 November 2011 dalam rangka 50 tahun SMK I (SMKI “Konri”) Kasihan Bantul Yogyakarta.

Judul dalam tulisan ini adalah “Transaksi Estetis dalam Pergelaran Wayang Wong.”Transaksi dalam pengertian umum dapat dimaknai sebagai persetujuan jual beli antara dua pihak.Berdasar pada pengertian tersebut, dalam tulisan ini transaksi estetis dapat dimaknai sebagai bentuk alternatif garapan Wayang Wong dengan bentuk-bentuk keindahan yang menyertainya yang dicoba ditawarkan oleh sutradara ataupun para seniman pendukung dalam upaya mencari persetujuan dari penonton atas pergelaran yang ditampilkannya.Sebagai pihak pertama adalah para pendukung yang teraktualisasi dalam garapan Wayang Wong, sementara pihak kedua adalah para penonton yang menyaksikan pergelaran tersebut. Kedua belah pihak berupaya beradaptasi dan tawar-menawar terhadap bentuk garapan yang mengadopsi berbagai nilai-nilai estetika yang dicoba ditawarkan, baik yang terkait dengan tata busana, ragam gerak tari, di-alog, maupun  penyajian secara keseluruhan. Oleh karena itu,  penonton yang mengetahui kaidah-kaidah Wayang Wong, baik Gaya Yogyakarta maupun Gaya Surakarta, harus menanggalkan cara amatan kedua gaya tersebut untuk memasuki wilayah estetika baru dalam menikmati sajian Wayang Wong dalam acara tersebut.

Secara visual, unsur-unsur tata busana pada foto dibawah ini jelas tidak menggambarkan pemakaian tata busana yang biasa dipakai pada Wayang Wong Gaya Surakarta dan Wayang Wong Gaya Yogyakarta. Akan tetapi, apabila diurai, pemakaian tata rias dan busananya merupakan perpaduan dari kedua gaya, sementara asesoris yang dikenakan pada kedua bahu tidak biasa dikenakan pada kedua gaya tersebut di atas.

Selain itu, gerak tarinya pun sepenuhnya tidak menerapkan pola-pola teknik gerak tari gaya Yogyakarta. Jika diperhatikan, foto (sebelah kanan) merupakan salah satu bentuk pose pada tari gaya Yogyakarta pada saat motif umbak banyu setelah tayunga. Di samping itu, ragam tari atau jogedan menggunakan motif-motif gerak tari gaya Yogyakarta.

Pergelaran itu didukung oleh para penari alumni yang sangat lekat dengan teknik-teknik gerak tari gaya Yogyakarta. Akan tetapi, apabila dilihat dari tata busana yang dikenakan para penari Puntadewa, Janaka, Nakula dan  Sadewa, tampak bahwa desain tata busana mengenakan tata busana Gaya Surakarta, seperti tampak jelas pada foto-foto tersebut. Pada foto di depan, apabila dilihat secara visual, tata busananya jelas merupakan tata busana gaya Surakarta. Akan tetapi, apabila diamati secara saksama, posisi tancep/tanjak para penari menerapkan posisi tancep dalam gaya Yogyakarta.

Selain itu, dialog atau antawecana yang diucapkan para penari pada saat dialog artikulasi kata atau kalimat yang diucapkan tidak lepas dari gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta.  Apabila dianalisis satu per satu, masih banyak ditemukan berbagai unsur yang dicoba ditawarkan dalam garapan Wayang Wong tersebut. Namun demikian, usaha mereka membuat alternatif pertunjukan Wayang Wong  merupakan usaha untuk mereaktualisasi, merekondisi dan sebuah transaksi estetis yang coba dicari legitimasinya dalam pergelaran tersebut. Pro kontra terhadap penyajian itu tentu saja ada.Akan tetapi, yang telah mereka lakukan patut diapresiasi sebagai bentuk penghargaan terhadap usaha memunculkan alternatif pertunjukan di tengah kegersangan dan stagnasi pertunjukan Wayang Wong.Kekurangan dan kelebihan dari itu tentu saja ada. Oleh karena itu, diperlukan keberlanjutan proses agar upaya itu dapat diterima oleh khalayak yang lebih luas. Ini merupakan sebuah usaha untuk mengakumulasi nilai estetika baru dalam khazanah perwayangwongan.* Kepala Pengembangan Pendidikan ISI Yogyakarta.

About The Author

Number of Entries : 387

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top