Wayang Wong masih Eksis dan Diminati Reviewed by Momizat on . Wayang Wong masih Eksis dan Diminati Oleh: Prapto Yuwono, M.Hum Bende edisi ini menurunkan tulisan hasil wawancara redaksi dengan seorang tokoh kondang di bidan Wayang Wong masih Eksis dan Diminati Oleh: Prapto Yuwono, M.Hum Bende edisi ini menurunkan tulisan hasil wawancara redaksi dengan seorang tokoh kondang di bidan Rating: 0
You Are Here: Home » Seniman » Wayang Wong masih Eksis dan Diminati

Wayang Wong masih Eksis dan Diminati

ali marsudi

Wayang Wong masih Eksis dan Diminati

Oleh: Prapto Yuwono, M.Hum

Bende edisi ini menurunkan tulisan hasil wawancara redaksi dengan seorang tokoh kondang di bidang seni Wayang Wong panggung, Ali Marsudi.Pria kelahiran Blora, 5 April 1967 ini adalah praktisi seni Wayang Wong yang sekaligus bekerja di RRI Surakarta.Lulus dari STSI Surakarta, Ali Marsudi yang telah dikaruniai dua anak itu dikenal sebagai tokoh alusan dalam jagad seni Wayang Wong. Sebagai tokoh alusan, ia pernah memerankan sejumlah tokoh satria. Salah satu tokoh yang pernah diperankan adalah tokoh Arjuna. Peran inilah antara lain yang mengangkat nama pria yang bermukim di Ngoro Tengah, RT 02/RW 03, Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo itu sebagai seniman mumpuni dalam jagad perwayangorangan.

Berikut penuturannya pada Bende mengenai kiprahnya dalam seni Wayang Orang, khususnya me-ngenai proses dan perjuangannya mencari dan menjadi Arjuna.

Anda dikenal sebagai praktisi seni Wayang Wong Panggung dan trade mark Anda adalah Arjuna. Apakah ini sudah jadi profesi?

Sebetulnya yang membuat image itu memang berawal dari SBN.Sebelum di SBN memang peran saya selalu alusan.Tapi di SBN pun peran saya tidak langsung jadi Arjuna.Ibu Nani pernah menunjuk saya jadi Puntadewa dalam Pandawa Piningit, tokoh Aryaprabhu, dan bahkan dalam lakon Tali Rasa Rasa Tali malahan peran yang mbranyak. Mungkin Ibu Nani  pada waktu itu sedang menguji saya, atau memang sedang mencari casting saya yang tepat, jadi ada proses seperti itu. Dalam lakon Arjunawiwaha oleh SBN, pertama kali saya ditunjuk sebagai Arjuna. Tapi masih banyak dikritik oleh Ibu Nani seperti kurang apa atau kekurusan misalnya. Pokoknya, Ibu Nani banyak catatannya.Tapi setelah itu, SBN selalu menunjuk saya berperan sebagai Arjuna meskipun sebelum saya masuk ke SBN, di Senawangi, sebetulnya saya pun sudah pernah ditunjuk jadi Arjuna.Kebetulan kelompok-kelompok yang sering mendapuk saya memang men-jurus menunjuk saya ke tokoh alusan, atau casting Arjuna begitu.Ya mungkin bisa dibilang sudah menjadi profesi saya setiap kali tampil sebagai Arjuna atau minimal alusan begitu.

Apakah Anda sudah merasa puas memerankan tokoh Arjuna?

Terus terang, hal ini merupakan kebanggaan ter-sendiri.Satu kebanggaan karena Arjuna adalah tokoh yang bagus.Jadi, saya mau tidak mau harus memerankan sebaik-baiknya.Dan dalam setiap penampilan pasti ada beban juga.Jangan-jangan saya tampak monoton atau tidak mengalami perkembangan dan kemajuan. Ada perasaan cemas juga, mau apa lagi ya dan tampil gimana lagi ya? Jadi, soal kepuasan bukan datang dari saya pribadi. Mungkin yang sering terjadi kalau saya di suatu lakon dengan SBN berperan sebagai tokoh utama, kemudian Ibu Nani naik ke panggung menyalami saya setelah selesai pentas dan dengan senyum khasnya, saya baru merasa puas. Bahkan sampai merinding rasanya. Tapi hal itu tidak hanya sekali pokoknya kalau sebuah penampilan sudah dilakukan dan berhasil, ya saya merasa bahagia sekali meskipun kadang-kadang juga masih terasa gela, kenapa nggak melakukan begini begitu. Iya soal tepukan penonton juga cukup memberikan kebahagiaan.Tapi saya lebih bahagia kalau Ibu Nani yang memberikan penilaiannya.

Sudah berapa lama Anda menggeluti Wayang Wong?

Saya mulai betul-betul terlibat dalam Wayang Wong tahun 2000-an, di RRI Surakarta, dengan bekal awal saya sebagai penari.Setelah lolos seleksi Sena-wangi, lalu diajukan jadi PNS.Jadi, sudah sebelas tahun sampai saat ini. Tapi sesungguhnya proses itu sudah dimulai sebelumnya dengan saya menari secara amatiran, dan juga saya pun pernah mendukung WOPA (Wayang Orang Panggung) pada waktu itu.

Apa suka dukanya menjadi pemain Wayang Wong?

Kalau terkait dengan Wayang Wong, rasanya seneng semua.Kadang-kadang bisa merupakan eks-presi jiwa juga, misalnya dengan menari, nembang, itu suatu kepuasan batin sendiri.Pokoknya ada sesuatu yang plong gitu.Sesungguhnya setiap kesenian bisa merupakan alat untuk mengekspresikan jiwa juga.Dan saya meskipun hanya mendengarkan gamelan saja, saya sudah merasa plong juga.Gamelan adalah sesuatu yang luar biasa bagi saya karena dapat menggetarkan batin atau jiwa saya.

Menurut Anda, di manakah letak seni Wayang Wong?

Kalau penguasaan terhadap semua unsur-unsur dalam wayang wong, seperti aspek antawacana, tarian, nembang, gending, dimiliki oleh seorang pemain dengan sebaik-baiknya, itulah seninya yang khas dari wayang  wong. Dan itu tidak ada dalam seni lain, baik ludruk, kethoprak, maupun yang lainnya. Saya kira yang paling kompleks adalah wayang wong. Kethoprak teaternya yang kuat dan menonjol. Tapi wayang wong semua aspeknya adalah untuk membangun totalitas. Setiap pemain diberikan kesempatan terbuka untuk memenuhi tuntutan-tuntutan itu.

Bagaimana cara Anda memahami karakter yang sedang Anda perankan?

Memang betul bahwa karakter tokoh wayang wong adalah sesuatu yang sudah ada bingkainya. Alus begini, mbranyak begini, brangasan begini.Sudah ada semuanya.Untuk menciptakan itu, seseorang sebetulnya harus didukung oleh postur atau gandar masing-masing.Yang terpenting juga harus bisa menciptakan karakter tokoh yang diperankannya meskipun bingkainya sudah ditentukan karena pakem.Bingkai kadang-kadang juga memudahkan karena mengarahkan.Semuanya sifatnya teknis.Ditambah dengan karakter yang dihayati dan diciptakan oleh pemainnya, maka jadilah karakter itu. Unsur bakat memang ada, tapi proses sangat perlu. Saya belum merasa selesai dengan peran atau karakter Arjuna. Marahnya Arjuna pasti beda dengan marahnya Kresna dan Karna misalnya, itu belum selesai saya pahami. Tapi bukankah Arjuna juga gambaran manusia biasa yang bisa marah.Bisa dikatakan saya terus-menerus sampai saat ini sedang menciptakan tokoh Arjuna. Dulu di RRI ada Arjuna perempuan, misalnya, sangat berhasil diperankan oleh Ibu Setyarini, tapi bagi saya, rasanya kurang pas karena saya berpendapat bahwa Arjuna harus laki-laki. Bingkainya begini: Arjuna harus luruh, alus,  greget laki-lakinya ada, diam, dan tidak kasar. Bukankah  Arjuna laki-laki? Itulah dilema yang saya alami.Tapi itu yang terus saya cari.Bagaimana Arjuna tampak laki-laki, tapi tidak keperempuanan.Alusnya adalah gagah.Jadi, yang selalu saya cari adalah alus, tapi gagah dan tandem meskipun saya paham bahwa dahulu ada alasan tersendiri bahwa Arjuna diperankan oleh perempuan.

Apa yang dibutuhkan menjadi pemain Wayang Wong yang baik?

Bekal-bekal selain kemampuan tari, kemampuan acting, kemampuan nembang, dan antawacana.Se-orang pemain harus selalu mencoba jadi peran-peran yang sesuai dengan postur atau gandar masing-masing.Puncaknya adalah bahwa kalau aktor harus menguasai semuanya.Mas Kenthus, misalnya, adalah contoh yang bagus.Mas Kenthus di samping memiliki kemampuan itu semua, posturnya juga sedang, bagus dan pas, bisa ke atas bisa ke bawah.Banyak bermacam peran yang bisa dilakukannya.Contohnya yang juga bagus adalah Pak Kies yang sering dan sangat cocok menjadi tokoh yang karakternya brangasan.Mengapa demikian mengagumkan, karena sesuai dengan gandarnya.Pos-tur atau gandar Pak Kies sesuai dengan tokoh-tokoh yang brangasan itu. Bisa saja seseorang mempelajari karakter tokoh-tokoh apa pun, namun masalahnya untuk melakukan itu adalah sebuah proses yang sangat lama. Tapi akhirnya semua dibatasi atau sangat bergantung pada postur atau gandar masing-masing.

Banyak profesi seperti ini tidak dapat bertahan lama, bagaimana kiat mengatasinya?

Yang paling terutama memang harus mencintai profesi ini.Tapi juga berkaitan dengan pekerjaan dan kesempatan. Jika sering ada kesempatan pasti akan mencintainya. Dengan demikian, seseorang karena ke-sempatan itu pasti akan selalu memikirkan profesinya itu. Tanpa sadar ia akan selalu melakukan evaluasi dan latihan-latihan meskipun secara formal sendiri-sendiri. Dengan nembang dan bengok-bengok sendiri misalnya.Itulah yang membuat kita eksis dalam profesi itu.

Bagaimana pendapat Anda melihat perkembangan seni Wayang Wong?

Sekarang ini, menurut saya, Wayang Wong sedang mengalami gregetnya kembali.Meskipun ini sebuah garapan, terlihat ada greget mau naik. Meskipun ditakutkan akan punah, ternyata di Solo tumbuh kelompok-kelompok wayang bocah. Setelah WOSBI (Wayang Orang Seribu Bintang, red.) kemarin menampilkan wayang bocah dari kelompok Bharata dan Swargaloka, sekarang akan muncul festival wayang bocah di Surakarta yang akan diselenggarakan oleh Pemkot Surakarta. Meskipun kelompoknya belum banyak tapi ini sudah menunjukan perkembangannya secara kuantitas juga.

Apa tantangan dan kendala melestarikan dan mengembangkan Wayang Wong?

Kendala yang paling utama adalah penggunaan bahasa yang khas wayang, padahal orang sekarang sudah tidak memahaminya lagi.Bahasa wayang adalah bahasa seni yang indah sekali.Sastra wayang itu luar biasa indahnya. Jadi, persoalannya adalah bagaimana sekarang mengajak kembali orang sekarang memahami bahasa itu lagi  agar wayang tetap hidup.

Bagaimana perkenalan Anda dengan SBN?

Mulanya saya bergabung dalam rekrutmen pegawai negeri oleh Senawangi di Depbudpar, Jakarta. Produksi pertama dilakukan oleh SBN—yang baru berdiri—dengan Mitra Barata  pimpinan Pak Darko yang menampilkan dua lakon, yaitu Cantrik Janaloka dan Sembadra Larung, di TVRI. Setelah itu,  saya ditimbali Bu Nani, lalu bergabung dengan SBN dan mulai muncul di TVRI untuk mensosialisasikan wayang dengan meman-faatkan teknologi.

Bagaimana Anda melihat SBN?

Tidak bisa dipungkiri SBN-lah yang memulai  men-ciptakan tayangan Wayang Wong secara rutin di TVRI dan ini menunjukkan mulai eksisnya SBN. Akhirnya, ma-syarakat kemudian mulai mengenal juga Wayang Wong yang sebetulnya tidak terlepas dari peran SBN itu sendiri.

Apa bedanya SBN dengan kelompok lain?

SBN selalu mencari casting yang sesuai dengan karakternya dan selalu memenuhi kaidah-kaidah Wayang Wong setepat-tepatnya. Di kelompok lain mungkin karena kurangnya SDM pemainnya sehingga sangat memaksakan casting-nya. SBN selalu berupaya mencari para pemain yang dinilai sangat tepat dalam peran dan karakter masing-masing.Arjuna harus diperankan oleh laki-laki yang postur atau gandarnya pas dan tepat.Jadi, SBN sangat selektif dan memilih. Di kelompok lain di RRI Surakarta atau Ngesti Pandawa bahkan Arjuna masih diperankan oleh perempuan. Karna juga ada yang diperankan perempuan.Saya setuju kalau SBN dikatakan mengarah pada yang pakem dan klasik. Dengan kata lain, Wayang Wong banget! Proses penciptaan di SBN panjang sekali. Mulai dengan omong-omong dengan para pakar, kemudian menulis skenario, bedah naskah dll.Ini membuktikan bahwa SBN memang telah menerapkan manajemen modern.Bukan tobong lagi. Saya merasa puas kalau pentas di SBN semuanya sudah dipersiapkan oleh tim kreatifnya. Jadi, saya tinggal main saja.Latihan hanya dua kali terus jadi. Karena ada naskah, sutradara, koregrafer dst. Hal itu tidak terjadi di kelompok lainnya.

Bagaimana latar belakang terciptanya WOSBI?

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam Wayang Wong, dalam situasi yang seperti ini ingin berbuat sesuatu untuk dunia Wayang Wong.Dan kebetulan event seperti ini jarang sekali diadakan. De-ngan banyaknya kelompok wayang yang diharapkan ikut, maka sebetulnya dapat dipakai sebagai ajang saling asah, tukar-menukar pengalaman karena dapat mengetahui apa yang dilakukan kelompok-kelompok lain. Di samping itu, kenapa harus di Solo, di Jakarta sudah banyak kegiatan wayang.Saya sudah matur Bu Nani agar ada pemerataan kegiatan seperti itu di daerah-daerah.Ibu Nani sangat mendukung sekali. WOSBI merupakan langkah positif untuk pengembangan Wayang Wong karena di sana tempat berkumpulnya kelompok-kelompok Wayang Wong yang ada. Dan respon masyarakat pun sangat baik sekali.Selama kegiatan 3 hari mereka sangat bersemangat untuk mengapresiasi.Dari kegiatan WOSBI akhirnya dapat disimpulkan ternyata Wayang Wong masih eksis dan diminati.

Sudah terpikirkan tentang kelanjutan WOSBI?

Setelah mendengar tanggapan masyarakat yang sangat positif, mereka berharap event yang bagus itu harus dilanjutkan, apakah setahun sekali ya kita lihat nanti.Kalau nggak diadakan lagi ya obor blarak katanya. Kami yakin semangat pertemanan antarkelompok dari peserta yang lalu yang selalu berkomunikasi secara baik akan dapat mendorong kegiatan WOSBI selanjutnya. Pemerintah Kota Surakarta secara tidak langsung memang mendukung. Pak Wakil Walikota kan juga memberikan sambutan pembukaan WOSBI yang lalu. Tapi secara tidak langsung memang menyambut baik kegiatan semacam itu. Pemkot yang merasa punya Sriwedari mungkin lebih mengarah bertanggung jawab ke sana. Tapi kan hasilnya WOSBI adalah untuk semua kelompok. Jadi, kami tetap optimis untuk melanjutkan WOSBI di masa mendatang.

Bagaimana peran keluarga?

Justru keluarga adalah pendukung nomor satu.Ke mana pun selalu saya didukung, misalnya dengan mempersiapkan kelengkapan-kelengkapan saya.Anak saya yang perempuan kelihatannya yang mulai me-nyenangi dengan mulai menari.Sudah mau serius dan menghayatinya.Hari ini malah sedang tampil di Manggala Wana Bhakti Jakarta.Anak laki-laki saya pun dulu belajar menari.Tapi yang lebih serius adalah yang perempuan.Dia sudah mulai bergabung dengan kelompok Mangkunegaran juga.

Siapakah yang sangat berperan dalam kehidupan Anda?

Sebetulnya yang pertama-tama tidak bisa dipung-kiri adalah Bu Nani. Saya kan dahulunya Wayang Wong daerah biasa ketika tiba di Jakarta. Pada saat itu diberi kesempatan oleh Ibu Nani untuk main di SBN.Padahal sebenarnya saya bukan orang yang tipenya pede gitu.Ibu Nani sangat tahu itu.Ya saya terus belajar di SBN.Akhirnya, sekarang telah menjadi profesi.

Apakah cita-cita Anda berkaitan dengan profesi ini?Saya berharap Wayang Wong hidup terus.Sesuai dengan harapan positif semua orang yang menyenangi Wayang Wong juga.

Apakah motto Anda dalam menjalani hidup ini?

Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan.Temen tinemu.

Siapa sebenarnya diri Anda menurut Anda sendiri?

Orang yang sederhana, namun mau berjuang.     * Departemen Kewilayahan FIB UI.

About The Author

Number of Entries : 387

Leave a Comment

© 2011 Powered By SekarBudayaNusantara by SBN Team

Scroll to top